
Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat impor kendaraan udara dan bagiannya melonjak 594,46 persen sepanjang Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kendaraan udara dan bagiannya menjadi komoditas nonmigas dengan peningkatan impor tertinggi selama periode tersebut.
"Peningkatan impor nonmigas terbesar pada Januari-Juli 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang naik 594,46 persen; garam, belerang, batu dan semen naik 125,15 persen; serta bijih logam, terak, dan abu naik 66,01 persen," kata Budi.
Selain kendaraan udara dan bagiannya, impor garam, belerang, batu, dan semen tercatat meningkat 125,15 persen dibandingkan Januari-Juli 2025.
Sementara itu, impor bijih logam, terak, dan abu tumbuh sebesar 66,01 persen.
Nilai Impor Indonesia Tembus 163,33 Miliar Dolar AS
Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 163,33 miliar dolar AS atau meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, impor nonmigas mencapai 137,56 miliar dolar AS atau tumbuh 16,78 persen.
Impor migas pada periode yang sama mencapai 25,77 miliar dolar AS atau meningkat 40,24 persen dibandingkan Januari-Juli tahun sebelumnya.
Khusus pada Juli 2026, nilai impor Indonesia mencapai 26,09 miliar dolar AS atau naik 0,72 persen dibandingkan Juni 2026.
Jika dibandingkan Juli 2025, nilai impor pada Juli 2026 tumbuh sebesar 27,02 persen.
Kenaikan impor secara bulanan pada Juli 2026 terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 4,57 persen menjadi 22,33 miliar dolar AS.
Sebaliknya, impor migas pada Juli 2026 turun 17,33 persen menjadi 3,77 miliar dolar AS.
Sejumlah komoditas nonmigas turut mencatat kenaikan impor secara bulanan, dengan serealia meningkat 78,38 persen.
Impor garam, belerang, batu, dan semen naik 64,53 persen, sedangkan ampas dan sisa industri makanan meningkat 31,88 persen.
Bahan Baku dan Barang Modal Dominasi Impor
Budi mengatakan perkembangan impor Indonesia perlu dilihat berdasarkan jenis barang dan penggunaannya karena sebagian besar barang impor digunakan untuk mendukung produksi dan investasi di dalam negeri.
"Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya," kata Budi.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, bahan baku dan penolong menjadi komponen terbesar dengan pangsa 71,45 persen dari keseluruhan impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026.
Barang modal berada di posisi berikutnya dengan kontribusi sebesar 19,88 persen, sedangkan barang konsumsi memiliki pangsa 8,67 persen.
Secara gabungan, bahan baku dan penolong serta barang modal mencapai 91,33 persen dari total impor Indonesia.
Dari sisi pertumbuhan, impor bahan baku dan penolong meningkat 20,42 persen dibandingkan Januari-Juli 2025.
Impor barang modal tumbuh 20 persen, sedangkan impor barang konsumsi meningkat 16,03 persen.
China Jadi Pemasok Nonmigas Terbesar
Berdasarkan negara asal, China masih menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan pangsa 42,38 persen.
Namun, dari sisi pertumbuhan, impor nonmigas dari Prancis mencatat lonjakan sebesar 168,36 persen.
Impor nonmigas dari Argentina meningkat 70,57 persen, sedangkan impor dari Federasi Rusia tumbuh 70,41 persen.
Budi menegaskan pemerintah akan menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan produksi di dalam negeri dan penguatan kinerja ekspor melalui peningkatan daya saing produk serta pengembangan nilai tambah.
Pemerintah juga akan mendorong perluasan sekaligus diversifikasi pasar ekspor Indonesia.
"Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor, sehingga kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan," ujar Budi.
- Penulis :
- Shila Glorya




