
Pantau - PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports memberikan sejumlah stimulus kepada maskapai, mulai dari diskon biaya pendaratan hingga tarif pelayanan penumpang, sebagai upaya membantu masyarakat memperoleh harga tiket pesawat yang lebih kompetitif pada periode tertentu.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi mengatakan salah satu stimulus yang diberikan berupa potongan landing fee atau biaya pendaratan pesawat hingga 50 persen.
Pada periode tertentu ketika perusahaan ingin meningkatkan trafik penerbangan, InJourney Airports bahkan dapat membebaskan biaya pendaratan bagi maskapai sehingga tarifnya menjadi nol.
“Misalnya, landing fee-nya jadi 50 persen, bahkan terkadang dalam periode tertentu untuk bisa meningkatkan trafik itu kami kasih gratis. Jadi, kami nol kan, gitu,” ujar Rizal setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis.
Diskon PSC Diberikan Saat Mobilitas Tinggi
Selain memberikan diskon biaya pendaratan, InJourney Airports memiliki pola stimulus tersendiri untuk mendukung maskapai yang membuka rute-rute baru.
Stimulus untuk pembukaan rute baru tersebut dapat berkaitan dengan penggunaan kantor maupun berbagai fasilitas yang dibutuhkan maskapai.
InJourney Airports juga memberikan stimulus pada periode dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, seperti Natal dan Tahun Baru, liburan sekolah, serta Ramadhan dan Idul Fitri.
Pada periode-periode tersebut, InJourney Airports memberikan diskon sebesar 50 persen untuk tarif pelayanan jasa penumpang pesawat atau Passenger Service Charge (PSC).
Pemberian stimulus menjadi bagian dari upaya perusahaan membantu masyarakat mendapatkan harga tiket pesawat yang lebih kompetitif sekaligus mendukung peningkatan daya beli.
“Kami mengambil peran di situ. Kami juga turut mendukung untuk bagaimana masyarakat bisa mendapatkan harga tiket yang lebih kompetitif, untuk bisa meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Rizal.
Trafik Pesawat dan Penumpang Turun pada 2025
Dalam paparannya pada RDP bersama Komisi VI DPR RI, Rizal mengakui kondisi geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap trafik atau pergerakan pesawat dan jumlah penumpang.
Selain faktor geopolitik, harga bahan bakar pesawat atau avtur menjadi persoalan yang memengaruhi industri penerbangan dan berulang kali dikeluhkan maskapai.
“Geopolitik sangat berpengaruh di kejadian ini, dan beberapa harga avtur. Saya kira ini satu isu yang memang bolak-balik dikeluhkan oleh airlines,” ucap Rizal.
Berdasarkan paparan kinerja operasional InJourney Airports pada 2025, jumlah pergerakan pesawat turun 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah pergerakan pesawat tercatat sebanyak 1,193 juta pada 2024 dan turun menjadi 1,190 juta pergerakan pada 2025.
Penurunan juga terjadi pada jumlah penumpang yang dilayani InJourney Airports, yakni dari 160 juta penumpang pada 2024 menjadi 158 juta penumpang pada 2025 atau berkurang 1 persen secara tahunan.
Di tengah penurunan trafik pesawat dan jumlah penumpang tersebut, kinerja angkutan kargo justru mengalami sedikit peningkatan.
“Beberapa memang turun secara trafik pesawat dan juga penumpang, yang meningkat sedikit kargo,” ujar Rizal.
Volume kargo meningkat dari 1,518 juta ton pada 2024 menjadi 1,534 juta ton pada 2025 atau tumbuh sebesar 1 persen secara tahunan.
Rizal menjelaskan peningkatan kargo salah satunya berkaitan dengan strategi maskapai mengoptimalkan sumber pendapatan ketika tingkat keterisian kursi penumpang atau seat load factor rendah.
Dalam kondisi tingkat keterisian kursi yang rendah, maskapai dapat memanfaatkan kapasitas pesawat untuk memperoleh pendapatan tambahan melalui pengangkutan kargo.
“Biasanya pesawat penumpang itu kalau seat load factor-nya rendah, biasanya mereka akan mengoptimalkan salah satu revenue-nya melalui kargo, sehingga kargo naik 1 persen,” kata Rizal.
- Penulis :
- Arian Mesa




