HOME  ⁄  Ekonomi

Perempuan Jadi Penggerak Transisi Energi saat Bauran EBT Nasional Terkoreksi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Perempuan Jadi Penggerak Transisi Energi saat Bauran EBT Nasional Terkoreksi
Foto: Perempuan penggerak energi bersih menerima Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 3/9/2026 (sumber: ANTARA/HO-SETI)

Pantau - Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan pengembangan energi hijau di Indonesia membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk perempuan yang menjadi penggerak energi bersih.

Menurut Eniya, transisi energi tidak hanya membutuhkan teknologi, investasi, dan kebijakan, tetapi juga sumber daya manusia yang berperan langsung dalam mendorong perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan.

Perempuan dinilai menjadi salah satu kelompok yang memiliki peran penting karena turut bekerja di garis depan dalam mendorong proses transisi energi.

Bauran Energi Terbarukan Terkoreksi

Dalam acara Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026, Eniya mengungkapkan capaian pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi di Indonesia hingga saat ini masih belum optimal.

Porsi energi hijau dalam bauran energi nasional sempat mencapai 18,3 persen pada triwulan pertama 2026.

Namun, pada semester I 2026, porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional turun menjadi 17,3 persen.

"Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3 persen, sekarang terkoreksi sedikit," kata Eniya.

Eniya turut memberikan apresiasi kepada individu maupun korporasi yang memiliki komitmen dan terlibat aktif dalam pengembangan energi baru dan terbarukan.

Kementerian ESDM juga menyambut positif keterlibatan sejumlah perguruan tinggi dalam program pengembangan energi bersih.

Perempuan Didorong Jadi Penggerak Energi Bersih

Salah satu penerima Apresiasi EBTKE 2026 kategori Women in Clean Energy adalah Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) yang memperoleh penghargaan dalam subkategori Energy Leader.

Melalui organisasinya, Mada menjalankan komitmen pengembangan energi bersih di sektor yang selama ini didominasi laki-laki dengan turut melibatkan banyak pekerja perempuan.

"Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi," kata Mada.

Rita Kefi dari Yayasan Humanis juga menerima penghargaan Apresiasi EBTKE 2026 dalam subkategori Changemaker.

Rita menekankan pengembangan energi di Indonesia harus melibatkan seluruh pihak tanpa membedakan gender.

Menurut Rita, salah satu tantangan terbesar adalah meningkatkan partisipasi perempuan karena sektor energi selama ini masih dipandang identik dengan laki-laki.

"Kalau berbicara tentang energi, ini tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki," kata Rita.

Berdasarkan kondisi tersebut, Rita menggunakan pendekatan goals gender exchange learning sustainability di masyarakat yang sekitar 30–50 persen kaum perempuannya tidak bersekolah.

Pendidikan dan Pengakuan Perkuat Peran Perempuan

Penerima penghargaan lainnya adalah Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung yang memperoleh penghargaan dalam subkategori Innovator.

Kiprah Novia dinilai menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam mendorong inovasi sekaligus mengembangkan solusi energi bersih yang dapat diterapkan secara nyata.

Pendidikan vokasi juga dipandang memiliki posisi penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab perubahan kebutuhan sektor energi.

Pemberian penghargaan dalam Apresiasi EBTKE 2026 sejalan dengan upaya Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) untuk meningkatkan visibilitas perempuan dalam sektor energi.

Program tersebut juga diarahkan untuk menghadirkan lebih banyak perempuan yang dapat menjadi figur teladan bagi generasi mendatang.

Project Manager SETI dari Yayasan Indonesia Cerah, Caecilia Galih, menilai pemberian pengakuan kepada perempuan di sektor energi penting untuk menunjukkan besarnya kontribusi mereka dalam mendorong perubahan.

"Pengakuan ini penting untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan di sektor energi. Kami berharap semakin banyak perempuan yang mendapatkan ruang untuk berkontribusi, memimpin, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya," kata Caecilia.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026