
Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan pemerintah menambah alokasi 150 ribu ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk memperkuat pasokan sekaligus membantu peternak unggas skala mikro.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kebijakan tersebut menjadi bentuk keberpihakan pemerintah terhadap ekosistem peternak unggas nasional.
"Sebanyak 150 ribu ton resmi diproses pemerintah yang nantinya akan menambah alokasi penugasan kepada Perum Bulog untuk peternak skala mikro," kata Amran.
Alokasi SPHP Jagung Pakan Ditambah
Program SPHP jagung pakan 2026 tahap pertama sebelumnya telah dimulai sejak awal Mei dengan total kuota penyaluran sebanyak 213,2 ribu ton.
Kuota tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan jagung pakan kelompok peternak dengan skala usaha mikro, kecil, dan menengah.
Dari total tersebut, sebanyak 138,65 ribu ton dialokasikan bagi kelompok peternak mikro berdasarkan asumsi kebutuhan selama tiga bulan.
Sebanyak 50,37 ribu ton dialokasikan bagi kelompok peternak kecil berdasarkan asumsi kebutuhan selama dua bulan.
Sementara itu, sebanyak 24,17 ribu ton dialokasikan kepada kelompok peternak menengah berdasarkan asumsi kebutuhan selama satu bulan.
"Sekarang ada tambahan lagi. SPHP jagung 150 ribu ton," kata Amran.
Bapanas mencatat realisasi penyaluran SPHP jagung pakan hingga 7 September telah mencapai 59,5 persen dari total target tahap pertama dan kedua sebesar 241,2 ribu ton.
Secara kuantitas, sebanyak 143,5 ribu ton jagung pakan telah diakses peternak yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia.
Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah peternak penerima atau pengakses tertinggi sebanyak 3.690 peternak, disusul Jawa Tengah dengan 2.017 peternak.
Pemerintah menegaskan penyaluran SPHP jagung melalui Perum Bulog akan terus dilanjutkan selama peternak masih membutuhkan dan direncanakan berlangsung hingga akhir 2026.
"Selama peternak butuh, kasih, titik. Jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan sampai akhir tahun," ujar Amran.
Amran juga telah menginstruksikan Perum Bulog untuk terus melayani kebutuhan jagung pakan peternak unggas guna menjaga ketersediaan pasokan.
Jagung dalam program tersebut diberikan dengan harga lebih ekonomis dibandingkan harga pasar.
Bapanas menetapkan harga jagung pakan sebesar Rp5.000 per kilogram apabila pengambilan dilakukan langsung di gudang Bulog.
Sementara itu, harga maksimal jagung SPHP di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram.
Peternak UMKM Jadi Prioritas
Penyaluran SPHP jagung pakan dilakukan melalui koperasi atau asosiasi untuk kemudian disalurkan kepada anggota yang telah terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.
Penyaluran ke daerah yang menjadi sentra produksi jagung harus mempertimbangkan periode panen raya serta kondisi harga jagung di tingkat petani dan peternak.
Pertimbangan tersebut diperlukan agar penyaluran jagung SPHP tidak menyebabkan harga jagung di tingkat petani setempat turun terlalu dalam.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan tambahan SPHP jagung pakan sebanyak 150 ribu ton diperuntukkan bagi peternak unggas nonkorporasi, terutama peternak skala mikro dan UMKM.
"Bulog punya jagung. Kita minta nanti jagungnya itu SPHP jagung 150 ribu ton untuk menyuplai itu peternak-peternak yang UMKM. Bukan yang pabrik besar," kata Zulkifli.
Menurut Zulkifli, stok jagung yang dimiliki Bulog dapat digunakan untuk membantu menjaga harga, terutama ketika memasuki musim paceklik.
Prioritas penyaluran diberikan kepada peternak skala menengah ke bawah dan bukan perusahaan atau pabrik besar.
"Agar harga (jagung) ini (selama) musim paceklik (terjaga). Nah karena itu jagung ini, Bulog punya stok, itu kita kasih SPHP. Untuk peternak-peternak yang menengah ke bawah. Bukan yang pabrik-pabrik yang besar," ujar Zulkifli.
Harga Jagung Nasional Masih di Atas HPP
Berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 7 September, rata-rata harga jagung pipilan kering di tingkat peternak secara nasional mencapai Rp5.922 per kilogram.
Harga tersebut tercatat 7,67 persen di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp5.500 per kilogram.
Lampung menjadi provinsi dengan rata-rata harga jagung tertinggi yang mencapai Rp6.600 per kilogram.
Sementara itu, Sumatera Utara mencatat rata-rata harga jagung paling rendah sebesar Rp5.437 per kilogram.
Melalui tambahan alokasi 150 ribu ton tersebut, pemerintah berupaya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga jagung pakan dengan memprioritaskan peternak unggas skala mikro serta kelompok usaha menengah ke bawah.
- Penulis :
- Shila Glorya




