
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Pemerintah China memperkuat kapasitas aparatur negara Indonesia dalam melakukan negosiasi ekonomi internasional guna memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi dalam berbagai kerja sama dengan mitra global.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan kemampuan negosiasi semakin penting seiring kebutuhan Indonesia menjalankan berbagai agenda ekonomi internasional, mulai dari memperoleh investasi berkualitas hingga membuka akses pasar baru.
Kemampuan tersebut juga dibutuhkan untuk memperkuat agenda hilirisasi dan mendorong alih teknologi melalui kerja sama internasional.
Kemenko Perekonomian pun menyiapkan pelatihan agar para pegawainya terbiasa menggunakan pola pikir non-business as usual dan mampu menghasilkan terobosan untuk mempercepat program pemerintah.
“Pelatihan ini kami siapkan agar para pegawai terbiasa berpikir non-business as usual, sehingga mampu menciptakan terobosan-terobosan untuk mempercepat program pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Susiwijono.
Negosiasi Jadi Kunci Lindungi Kepentingan Indonesia
Kemampuan negosiasi menjadi bagian penting dalam tugas koordinasi Kemenko Perekonomian, khususnya ketika aparatur menyiapkan posisi runding Indonesia dan melaksanakan perundingan perjanjian kerja sama ekonomi internasional.
Dalam setiap kesepakatan yang dirundingkan, aparatur dituntut mampu memastikan kepentingan nasional Indonesia tetap terlindungi.
Menurut Susiwijono, aparatur juga perlu memiliki pola pikir yang tidak terpaku pada cara-cara rutin agar peluang dari kerja sama internasional dapat dikonversi menjadi komitmen yang menghasilkan manfaat konkret bagi Indonesia.
Ia menilai praktik negosiasi di China tidak hanya dipandang sebagai teknik yang digunakan saat berada di meja perundingan, tetapi juga sebagai keterampilan yang berkaitan dengan budaya.
“Di China, negosiasi bukan semata teknik di meja perundingan, melainkan keterampilan budaya yang mengakar kuat dalam tradisi, sejarah, dan keterampilan fundamental,” imbuh Susiwijono.
Penguatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui kerja sama Government-to-Government (G to G) antara Kemenko Perekonomian dan Kementerian Perdagangan China atau MOFCOM.
Sebanyak 32 pegawai Kemenko Perekonomian mengikuti program pelatihan selama 14 hari di China yang diselenggarakan oleh Academy for International Business Officials (AIBO).
Program itu merupakan hibah bantuan teknis dan pengembangan kapasitas dari Pemerintah China dalam kerangka kerja sama bilateral Indonesia-China.
Aparatur Dibekali Strategi hingga Simulasi Negosiasi
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi mengatakan materi pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan aparatur yang terlibat dalam proses perundingan ekonomi internasional.
Materi yang diberikan mencakup dasar-dasar negosiasi, psikologi dan strategi negosiasi, komunikasi lintas budaya, serta negosiasi bisnis multilateral dan regional.
Peserta juga mempelajari evolusi negosiasi penurunan tarif, dukungan teknis dalam negosiasi perjanjian perdagangan bebas, mekanisme penyelesaian sengketa internasional, serta berbagai isu kunci dalam negosiasi e-commerce.
Selain menerima materi, para peserta mengikuti simulasi negosiasi diplomatik sebagai bagian dari rangkaian pelatihan.
Edi menilai pembekalan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan tugas kedeputian dalam mempersiapkan dan menjalankan perundingan kerja sama ekonomi internasional.
“Rangkaian materi tersebut relevan langsung dengan tugas kedeputian dalam menyiapkan dan menjalankan perundingan kerja sama ekonomi internasional. Kami memandang penugasan ini sebagai investasi institusi,” kata Edi.
China Soroti Pentingnya Kemitraan Jangka Panjang
Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan kemampuan negosiasi berperan penting dalam menghasilkan kesepakatan antara Indonesia dan China.
Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi dasar hubungan kemitraan strategis kedua negara yang dilandasi kepercayaan dan semangat saling mendukung dalam jangka panjang.
Wang juga menyebut kerja sama pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China.
Kemitraan kedua negara terus berkembang dalam sektor perdagangan, investasi, hilirisasi, transisi energi, dan teknologi.
Penguatan kapasitas aparatur tersebut juga sejalan dengan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen pada 2029.
Dalam periode yang sama, pendapatan nasional bruto per kapita ditargetkan mencapai 8.000 dolar AS.
- Penulis :
- Leon Weldrick




