HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Bidik Investasi Minyak Guyana dan Suriname untuk Perkuat Ketahanan Energi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Bidik Investasi Minyak Guyana dan Suriname untuk Perkuat Ketahanan Energi
Foto: Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Grata Endah Werdaningtyas bersama Direktur II Amerika Kemlu RI Riris Wusananingdyah dalam temu media di Jakarta, Senin 14/9/2026 (sumber: ANTARA/Nabil Ihsan)

Pantau - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan Indonesia tengah mengkaji peluang investasi pada sumber minyak baru di Guyana dan Suriname sebagai bagian dari diversifikasi pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI Grata Endah Werdaningtyas mengatakan Pertamina telah melakukan penjajakan kerja sama eksplorasi sekaligus investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi di kedua negara Amerika Latin tersebut.

“Pertamina sudah melakukan penjajakan untuk kerja sama eksplorasi di kawasan ini serta investasi di sektor hulu migas Guyana dan Suriname,” ungkap Grata dalam temu media di Jakarta, Senin.

Cadangan Minyak Guyana dan Suriname Dinilai Menjanjikan

Grata menjelaskan cadangan minyak lepas pantai Guyana dan Suriname memiliki potensi menjanjikan dengan tingkat produksi yang diproyeksikan dapat mencapai 200 ribu barel per hari pada 2028.

Penjajakan tersebut menjadi bagian dari langkah Pertamina mendiversifikasi sumber minyak ke kawasan Amerika Latin sehingga Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber tertentu.

Upaya memperluas sumber pasokan minyak semakin penting di tengah ketegangan geopolitik, termasuk situasi di Selat Hormuz yang berkaitan dengan perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Grata memastikan apabila Indonesia akhirnya mengambil minyak dari Guyana dan Suriname, langkah tersebut tidak hanya dilakukan melalui pembelian, tetapi juga dengan berinvestasi pada sumber minyak di kawasan itu.

Melalui investasi tersebut, Indonesia akan memiliki kepemilikan pada sumber minyak sehingga kepastian pasokan dinilai dapat menjadi lebih kuat.

“Investasi berarti ada kepemilikan kita di sumber tersebut, sehingga suplai dari sana akan semakin pasti bagi kita,” ungkap Grata.

Menurut Grata, pendekatan investasi tersebut juga membuat posisi Indonesia tidak hanya menjadi pembeli dalam sektor minyak dan gas bumi.

“Dengan langkah tersebut, kita jadi pemain yang lebih cerdas di bidang migas,” ungkap Grata.

Perdagangan Indonesia dengan Amerika Latin Menguat

Penjajakan investasi migas di Guyana dan Suriname berlangsung ketika kinerja perdagangan Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia menunjukkan penguatan.

Berdasarkan data Kemlu RI, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Latin dan Karibia pada 2025 mencapai 7,6 miliar dolar AS, sedangkan nilai impornya mencapai 8,5 miliar dolar AS.

Meski demikian, porsi perdagangan dan investasi Indonesia di kawasan Amerika Latin dan Karibia masih sekitar 3 persen dari keseluruhan perdagangan global Indonesia.

Persentase tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi ekonomi yang dimiliki kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Kemlu RI pun kembali mengirimkan misi bisnis Indonesia ke Amerika Latin dan Karibia melalui INA-LAC untuk memperluas keterlibatan pelaku usaha Indonesia di kawasan tersebut.

INA-LAC 2026 akan dipusatkan di Chile dan dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Oktober 2026.

Misi bisnis tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas keterlibatan ekonomi di Amerika Latin dan Karibia, termasuk di tengah penjajakan peluang investasi baru sektor minyak dan gas bumi di Guyana dan Suriname.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026