
Pantau - Pertamina New & Renewable Energy (NRE) mempercepat pengembangan bioetanol dengan pendekatan multi-feedstock dan multi-generation melalui Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Fasilitas tersebut dikembangkan untuk memanfaatkan beragam potensi bahan baku sekaligus menguji berbagai teknologi produksi bioetanol generasi pertama atau 1G dan generasi kedua atau 2G.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan pendekatan tersebut ditujukan untuk memaksimalkan sumber daya yang tersedia di daerah sekaligus memperkuat pengembangan bioetanol di Indonesia.
“Di mana pendekatan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lokal sekaligus mendukung pengembangan ekosistem bioetanol nasional,” ungkap John.
Sorgum Dikembangkan untuk Bioetanol 1G dan 2G
Bioethanol Development Center dikembangkan sebagai platform pengembangan dan pengujian bioetanol dalam skala pilot, mulai dari pengembangan serta budidaya bahan baku hingga pengujian dan validasi teknologi produksi.
John menyebut sorgum sebagai salah satu bahan baku yang menarik untuk dikembangkan karena memiliki potensi produktivitas dan siklus panen yang kompetitif.
Pengembangan sorgum di Lampung menggunakan pendekatan multi-generation dengan memanfaatkan nira sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama atau 1G.
Setelah nira diambil, batang maupun biomassa sorgum yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk memproduksi bioetanol generasi kedua atau 2G.
Pendekatan tersebut memungkinkan bagian-bagian dari sorgum dimanfaatkan untuk menghasilkan bioetanol melalui lebih dari satu generasi teknologi produksi.
Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan sebagai fasilitas pilot dengan kapasitas produksi bioetanol mencapai 60 kiloliter per tahun.
Fasilitas tersebut digunakan untuk menguji berbagai kombinasi bahan baku dan teknologi produksi melalui tahapan pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi.
Tahapan pre-treatment juga digunakan dalam pengolahan bahan baku untuk menghasilkan bioetanol generasi kedua atau 2G.
Pertamina NRE Dukung Target 1 Juta Kiloliter Bioetanol
Pertamina NRE menyatakan komitmennya mendukung program Presiden dalam pengembangan bioetanol nasional dengan salah satu sasaran produksi mencapai 1 juta kiloliter per tahun menggunakan sistem multi-generation.
“Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,” kata John.
Pengembangan Bioethanol Development Center sekaligus menandai dimulainya pengembangan Lampung sebagai salah satu pusat bioetanol secara end-to-end.
Pengembangan tersebut mencakup pengembangan dan budidaya bahan baku, pengolahan, hingga validasi teknologi produksi bioetanol.
Hasil pengujian dalam skala pilot nantinya menjadi dasar penilaian teknis, ekonomi, dan komersial sebelum pengembangan dilanjutkan menuju skala demonstrasi maupun komersial.
“Ke depan, hasil pengujian pada skala pilot akan menjadi dasar bagi technical, economic, and commercial assessment dalam menentukan pengembangan menuju skala demonstrasi dan komersial,” ungkap John.
Pertamina NRE Teken Dua Nota Kesepahaman
Untuk mendukung pengembangan fasilitas tersebut, Pertamina NRE turut menandatangani dua nota kesepahaman atau MoU dengan sejumlah pihak.
Nota kesepahaman pertama ditandatangani Pertamina NRE bersama Pemerintah Provinsi Lampung yang mencakup pengembangan agribisnis serta ketahanan energi dan pangan di provinsi tersebut.
Nota kesepahaman kedua melibatkan Pertamina NRE, TMMIN, TTI, dan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit).
Kerja sama tersebut bertujuan menjajaki potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Ruang lingkup kerja sama meliputi kajian kelayakan, penjajakan pengembangan dan pemanfaatan teknologi, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman untuk mendukung produksi dan pemanfaatan bioetanol berkelanjutan.
- Penulis :
- Leon Weldrick




