
Pantau - Festival Sangiang Api dan Tambora Jungle Run 2026 di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menggerakkan ekowisata berbasis alam sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui tradisi bahari, olahraga petualangan, UMKM, transportasi, penginapan, dan jasa wisata.
Festival Sangiang Api berlangsung di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, pada 30 Agustus hingga 8 September 2026 dengan lomba perahu layar sebagai salah satu atraksi utamanya.
Sementara itu, sekitar 500 pelari mengikuti Tambora Jungle Run 2026 di kawasan Sanctuary Resort Doroncanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, pada 30 Agustus 2026.
Kedua kegiatan tersebut menarik pengunjung dari berbagai daerah sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk dan jasa masyarakat lokal.
Salah satu bar kopi di arena Tambora Jungle Run bahkan mencatat penjualan sekitar Rp2 juta dengan modal bahan baku sekitar Rp1 juta dalam waktu kurang dari sehari.
Festival Sangiang Api Hidupkan Tradisi Bahari
Desa Sangiang menjadi pintu gerbang menuju Pulau Sangiang yang memiliki lanskap Gunung Sangiang Api, pesisir laut, serta tradisi masyarakat sebagai potensi wisata.
Festival Sangiang Api mengemas potensi tersebut melalui lomba perahu layar dan dayung, pertunjukan seni tradisional, kuliner khas, hingga bazar UMKM.
Sebanyak tujuh perahu tradisional mengikuti perlombaan dengan berpacu dari arah Gunung Sangiang Api menuju Desa Sangiang.
Festival tersebut turut menarik wisatawan dari Makassar, Labuan Bajo, Lombok, Jawa, hingga mancanegara.
Pemilik sampan layar Sembilan Naga, Saifullah, membutuhkan biaya lebih dari Rp30 juta dan waktu pengerjaan sekitar tiga bulan untuk membangun satu perahu balap kompetisi.
Perahu dengan panjang sekitar tujuh hingga sembilan meter tersebut menggunakan tiang layar setinggi tujuh meter serta material kayu, bambu, terpal, dan perlengkapan lain yang sebagian didatangkan dari luar Sangiang.
Aktivitas pembuatan hingga perlombaan perahu turut memberikan penghasilan bagi pembuat perahu, pemasok bahan, pekerja, pedagang, hingga penyedia jasa transportasi.
Pelaku ekonomi kreatif di sekitar lokasi festival, Farida, mengaku penjualannya meningkat hingga harus mendatangkan tambahan bahan baku dari Kota Bima.
“Sangat laku dan keuntungannya sampai berkali-kali lipat. Stok jualan saya beberapa kali sampai ludes,” tuturnya.
Festival Sangiang Api pertama kali diinisiasi pemuda desa pada 2014 dan mulai diselenggarakan secara rutin sejak 2018.
Pemerintah Kabupaten Bima kini mendorong pengembangan festival agar dapat masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) sekaligus terintegrasi dengan destinasi lain seperti Sape, Lambu, dan Sanggar.
Tambora Jungle Run Dorong Wisata Olahraga
Tambora Jungle Run 2026 menghadirkan tiga kategori perlombaan, yakni 40K Sea to Summit, 10K Savana Trail, dan 5K Fun Trail.
Bupati Dompu Bambang Firdaus melepas peserta sekaligus mengikuti kategori 5K dalam kegiatan tersebut.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa Dompu memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Melalui ajang olahraga ini, kami juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian Tambora,” ujarnya.
Kegiatan tersebut memanfaatkan daya tarik Gunung Tambora yang memiliki sejarah letusan besar pada April 1815 serta kekayaan ekosistem dan budaya masyarakat sekitarnya.
Kedatangan peserta dan pendamping meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan, transportasi, penginapan, jasa pemandu, hingga produk UMKM.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora Abdul Azis Bakry mengatakan kegiatan olahraga dapat menjadi sarana mengenalkan kawasan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
“Dampak langsungnya memang terasa saat acara berlangsung. Namun untuk jangka panjang, kami berharap ini memicu pengembangan kawasan, agrowisata, dan usaha masyarakat yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Pemilik Coffeezone, Stekhen, menjadi salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung peningkatan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.
“Penjualannya sangat bagus, tidak sampai sehari sudah habis. Modal awal yang kami siapkan sekitar Rp1 juta bisa menghasilkan omset hingga Rp2 jutaan,” tuturnya.
Kategori 40K Sea to Summit menjadi salah satu daya tarik utama karena membawa peserta dari garis pantai hingga ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
“Daya tarik paling ikonik adalah kombinasi lintasannya, dimulai dari 0 mdpl hingga menembus sekitar 2.000 mdpl,” tambah Abdul Azis.
Pengelola juga berencana mengintegrasikan Teluk Saleh, kawasan agrowisata, dan kaldera Tambora menjadi satu rangkaian perjalanan wisata.
Ekowisata Diharapkan Berkelanjutan
Peserta Tambora Jungle Run datang dari Jakarta, Jawa, Bali, Sulawesi, NTT, serta berbagai wilayah NTB seperti Bima dan Dompu.
Pelari asal Sembalun, Lombok Timur, Zandi Holikin menjuarai kategori 40K dengan waktu 5 jam 29 menit 50 detik, sedangkan Nopa Putra yang berusia 17 tahun menempati posisi ketiga dengan catatan 7 jam 15 menit 21 detik.
PASI Kota Bima juga mencatat tujuh podium dalam rangkaian perlombaan tersebut.
Balai Taman Nasional Tambora turut mendorong sumber pendapatan alternatif masyarakat melalui penanaman 10 ribu bibit kemiri serta pengembangan komoditas durian dan alpukat.
Sangiang memiliki potensi kuliner, kain tenun, kerajinan, perahu tradisional, dan produk UMKM, sedangkan Tambora menawarkan wisata olahraga, jasa pemandu, transportasi, penginapan, serta produk kreatif masyarakat.
Pengembangan kedua kawasan secara berkelanjutan diharapkan dapat membuat aktivitas pariwisata tidak berhenti setelah festival selesai, tetapi terus menggerakkan ekonomi masyarakat sepanjang tahun.
- Penulis :
- Aditya Yohan




