HOME  ⁄  Ekonomi

Warga Perbatasan Jagoi Babang Menjaga Kedaulatan Rupiah di Tengah Kedekatan dengan Malaysia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Warga Perbatasan Jagoi Babang Menjaga Kedaulatan Rupiah di Tengah Kedekatan dengan Malaysia
Foto: (Sumber :Seorang guru bernama Carsan mengenalkan kecintaan terhadap rupiah kepada siswa-siswi di SDN 08 Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia. ANTARA/Narwati..)

Pantau - Masyarakat di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terus memperkuat penggunaan rupiah sebagai alat pembayaran sekaligus simbol kedaulatan Indonesia di kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi sejak sekolah, penggunaan rupiah dalam perdagangan, perluasan layanan perbankan, hingga pengembangan transaksi digital QRIS Antarnegara.

Kedekatan Jagoi Babang dengan Sarawak membuat masyarakat setempat tidak asing dengan ringgit Malaysia, sementara sejumlah kebutuhan warga juga diperoleh dari negara tetangga.

Guru SDN 08 Risau, Carsan atau Asep Dea, mengenalkan rupiah kepada siswa melalui pembelajaran mengenai pecahan uang, gambar pahlawan, ciri keamanan, tekstur uang, hingga simulasi jual-beli.

“Anak-anak, coba keluarkan uang yang kalian punya di saku," kata Carsan saat mengawali pembelajaran di kelas.

“Lihat gambar pahlawan dan pemandangan di lembaran ini. Ini adalah rupiah, uang resmi negara kita, Indonesia. Setiap lembar yang kalian pegang punya cerita tentang perjuangan dan keindahan tanah air kita sendiri,” kata Asep Dea.

"Mengajarkan rupiah kepada anak-anak bukan sekadar soal hitung-hitungan matematika atau daya beli, melainkan tentang membangun fondasi kesadaran berbangsa," ujar Asep.

Rupiah Dipertahankan dalam Transaksi di Perbatasan

Penggunaan rupiah juga dipertahankan pelaku usaha, termasuk Toko Victory di Simpang Take, Jagoi Babang, yang dikelola Fanny (31).

Meski kerap melayani pembeli asal Malaysia, toko tersebut tetap mencantumkan harga barang dan melakukan transaksi menggunakan rupiah.

“Kalau mereka belanja di sini tetap pakai rupiah. Harga di rak juga tetap rupiah,” kata Fanny.

Camat Jagoi Babang Saidin mengatakan kewajiban penggunaan rupiah di seluruh wilayah NKRI, termasuk kawasan perbatasan, telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Menurut dia, penggunaan rupiah di perbatasan bukan hanya menyangkut alat pembayaran yang sah, tetapi juga menjadi simbol kehadiran dan kedaulatan negara.

"Kami selalu melaksanakan sosialisasi cinta rupiah kepada masyarakat di perbatasan dengan menggandeng Bank Indonesia," kata Saidin.

BI Perluas QRIS Antarnegara di Tiga PLBN

Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat memperluas penggunaan QRIS Antarnegara ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Badau, dan Jagoi Babang pada 2026 untuk memperkuat konektivitas ekonomi dengan Malaysia.

"Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Kalimantan Barat memiliki potensi besar dalam adopsi QRIS Antarnegara," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya.

BI Kalbar juga menggagas QRIS Betang atau Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara yang meliputi QRIS Betang Perbatasan, QRIS Betang Perbankan, serta QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas.

"Melanjutkan kesuksesan program Layanan Batas Negara atau LENTERA yang diinisiasi di PLBN Aruk tahun lalu, kami memperluas program ke tiga PLBN di 2026," kata Doni.

QRIS Betang Perbatasan diarahkan untuk memperluas digitalisasi pembayaran di kawasan PLBN, termasuk pasar wisata, perhotelan, serta sektor makanan dan minuman.

QRIS Betang Perbankan mendorong industri perbankan memperluas transaksi QRIS Antarnegara melalui edukasi dan kompetisi transaksi inbound sekaligus meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pembayaran lintas negara.

QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas melibatkan perguruan tinggi, pelaku pariwisata, pemerintah daerah, dan komunitas, termasuk melalui kegiatan Summer School lintas negara.

Transaksi QRIS di Kalimantan Barat Tembus Rp6,5 Triliun

Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS di Kalimantan Barat mencapai 552.673 atau tumbuh 28,94 persen secara tahunan dengan 74,17 persen di antaranya merupakan usaha mikro.

Nilai transaksi QRIS di Kalimantan Barat mencapai Rp6,5 triliun atau meningkat 112,04 persen secara tahunan, sedangkan volumenya mencapai 62,9 juta transaksi atau tumbuh 131,97 persen.

Jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Barat pada periode yang sama mencapai 875 ribu orang.

"Kami berharap QRIS Betang dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif Bank Indonesia, tetapi juga kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat," kata Doni.

Di wilayah kerja BRI KCP Bengkayang, jumlah pengguna aktif bulanan hingga Mei 2026 mencapai 2.958 pengguna, sedangkan volume transaksi finansial melalui BRImo telah melampaui Rp565 juta dengan lebih dari 300 ribu transaksi.

"Capaian ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital yang menawarkan kemudahan, kecepatan, dan keamanan dalam bertransaksi," ujar Pimpinan BRI KCP Bengkayang Vendy Aries Martcahyo.

BRI KCP Bengkayang juga mencatat sebanyak 398 merchant QRIS binaan hingga Mei 2026 seiring semakin luasnya penggunaan pembayaran nontunai oleh masyarakat dan pelaku UMKM.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026