
Pantau - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penguatan produksi grease atau gemuk pelumas di dalam negeri dapat memperkuat industri pendukung, meningkatkan kapasitas manufaktur, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan masuknya investasi manufaktur baru penting karena dapat menambah kapasitas produksi, menghadirkan teknologi baru, serta memperkuat keterkaitan perusahaan dengan industri pendukung di Indonesia.
Agus menyampaikan hal tersebut bertepatan dengan peresmian Shell Grease Manufacturing Plant (GMP) di Marunda, Bekasi, pada Selasa.
“Bagi Pemerintah, investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri. Inilah arah industrialisasi yang kita kehendaki, yaitu investasi yang memperkuat kapasitas produksi, nilai tambah, teknologi, dan ekosistem industri nasional,” ungkap Agus.
GMP Marunda Masuk Tiga Besar Fasilitas Grease Shell Global
Menurut Agus, penguatan basis manufaktur tersebut sejalan dengan kinerja positif industri pengolahan nonmigas (IPNM) nasional.
Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen pada periode yang sama.
Industri pengolahan nonmigas juga memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar terhadap perekonomian nasional sebesar 0,97 poin persentase.
Agus menilai kinerja manufaktur nasional tidak terlepas dari kontribusi dan kepercayaan pelaku industri yang terus memperkuat kegiatan produksinya di Indonesia, termasuk Shell melalui pengembangan basis manufaktur di Marunda.
Shell sebelumnya mengembangkan Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) pada 2022 sehingga kapasitas produksi pelumas perusahaan di Marunda mencapai hingga 300 juta liter per tahun.
Kehadiran GMP Marunda kemudian melengkapi fasilitas manufaktur Shell di kawasan tersebut dengan kapasitas produksi grease sebesar 12.000 ton per tahun.
Berdasarkan data Shell, kapasitas itu menempatkan GMP Marunda dalam tiga besar fasilitas produksi grease Shell secara global.
“Dengan kapasitas tersebut, GMP Marunda berdasarkan data Shell, termasuk dalam tiga besar fasilitas grease Shell secara global. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pengembangan kegiatan manufaktur Shell,” kata Agus.
Produksi Lokal Buka Peluang Substitusi Impor
Pengoperasian GMP Marunda dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan grease di pasar domestik sekaligus membuka peluang substitusi impor.
Pada 2025, impor Indonesia untuk produk grease atau gemuk pelumas dengan kode HS 27101944 tercatat sekitar 22.377 ton.
Dari jumlah tersebut, impor produk grease Shell dengan merek Shell Gadus mencapai sekitar 11.757 ton.
Setelah GMP Marunda beroperasi, Shell Gadus yang sebelumnya dipasok dari luar negeri dapat diproduksi di Indonesia sehingga diharapkan memperkuat pemenuhan kebutuhan domestik dan meningkatkan penciptaan nilai tambah.
Selain kapasitas produksi, Kemenperin menilai keterkaitan investasi dengan industri nasional menjadi aspek penting dalam memperkuat ekosistem manufaktur.
Shell saat ini telah melibatkan lebih dari 50 vendor domestik dengan nilai pengadaan sekitar Rp30 miliar per tahun.
Agus menilai keterlibatan vendor dalam negeri dapat menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok domestik yang semakin kuat.
“Keterlibatan vendor domestik menjadi fondasi yang baik untuk membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat di dalam negeri. Ke depan, local sourcing dapat terus diperluas, terutama untuk bahan baku, kemasan, dan jasa industri, sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas melalui tumbuhnya industri pendukung dan kegiatan ekonomi di sepanjang rantai pasok,” ungkap Agus.
Kemenperin Dorong Manufaktur Hijau dan Berkelanjutan
Menperin juga mengapresiasi penggunaan teknologi manufaktur modern dan proses yang terotomasi di GMP Marunda untuk meningkatkan produktivitas, menjaga konsistensi mutu produk, serta memperkuat daya saing manufaktur.
Dari aspek keberlanjutan, kawasan LOBP Marunda telah menggunakan panel surya, energy monitoring system, dan rainwater harvesting.
Panel surya di kawasan tersebut mampu menghasilkan energi sekitar 1,1 juta kWh per tahun atau memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan listrik di area LOBP.
Agus menilai penerapan manufaktur modern harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas, efisiensi penggunaan sumber daya, perlindungan lingkungan, dan keselamatan kerja.
“Komitmen terhadap manufaktur yang modern, produktif, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan kerja sejalan dengan arah pembangunan industri nasional yang semakin hijau, efisien, aman, dan berkelanjutan,” kata Agus.
Menperin berharap GMP Marunda ke depan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan grease di pasar domestik, tetapi juga berkembang menjadi salah satu basis produksi Shell untuk kawasan regional.
Dengan posisi strategis Indonesia, basis manufaktur yang besar, dan kekuatan pasar domestik, GMP Marunda dinilai memiliki peluang untuk melayani pasar regional hingga global.
- Penulis :
- Leon Weldrick




