HOME  ⁄  Ekonomi

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 454,8 Miliar Dolar AS, BI Sebut Strukturnya Tetap Sehat

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 454,8 Miliar Dolar AS, BI Sebut Strukturnya Tetap Sehat
Foto: Pegawai menunjukan uang dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu 21/1/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Pantau - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 mencapai 454,8 miliar dolar AS atau tumbuh 4,9 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Posisi tersebut relatif stabil dibandingkan Juni 2026 yang tercatat sebesar 454,5 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kondisi ULN Indonesia masih terkendali.

"Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 tetap terjaga," ungkap Ramdan.

Perkembangan ULN pada Juli 2026 terutama dipengaruhi peningkatan utang sektor publik di tengah penurunan ULN sektor swasta.

ULN Pemerintah Capai 218,4 Miliar Dolar AS

Posisi ULN pemerintah pada Juli 2026 tercatat sebesar 218,4 miliar dolar AS atau tumbuh 3,2 persen secara tahunan.

Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi aliran modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

Menurut BI, aliran modal masuk pada SBN internasional mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Pemerintah berkomitmen menjaga kredibilitas pengelolaan utang dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga secara tepat waktu.

ULN pemerintah juga dikelola secara prudent, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN terus diarahkan untuk membiayai sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainabilitas pengelolaan utang.

Berdasarkan sektor ekonomi, sebanyak 22,0 persen dari total ULN pemerintah digunakan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib memperoleh porsi 20,7 persen, sedangkan jasa pendidikan sebesar 16,2 persen.

Sektor konstruksi memiliki porsi 11,5 persen, sementara transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen dari total ULN pemerintah.

Posisi ULN pemerintah dinilai relatif aman dan terkendali karena hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang.

ULN Swasta Turun Menjadi 194,5 Miliar Dolar AS

Berbeda dengan pemerintah, posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar 194,5 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 1,2 persen secara tahunan.

Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi perkembangan ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan atau nonfinancial corporations yang mengalami kontraksi 1,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, ULN kelompok lembaga keuangan atau financial corporations mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen secara tahunan.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terutama berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.

Keempat kelompok sektor tersebut secara keseluruhan memiliki pangsa 80,6 persen dari total ULN swasta.

ULN swasta juga tetap didominasi utang berjangka panjang.

BI Nilai Struktur Utang Indonesia Tetap Sehat

Secara keseluruhan, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dan didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Kondisi tersebut salah satunya tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada pada level 30,7 persen pada Juli 2026.

Struktur ULN Indonesia juga dinilai tetap terjaga karena didominasi utang jangka panjang.

Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN untuk menjaga struktur utang tetap sehat.

Pemerintah dan BI juga akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah dan BI berupaya meminimalkan berbagai risiko ULN yang berpotensi memengaruhi stabilitas perekonomian Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026