
Pantau - Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mulai menerapkan metode tanam padi Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk meningkatkan populasi tanaman sekaligus mendorong produktivitas padi petani.
Uji coba metode PM-AAS dilakukan di lahan pertanian Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, pada Selasa.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan penerapan metode tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap akselerasi gerakan tanam padi bersama di Jawa Tengah.
"Penerapan metode tanam PM-AAS ini dalam rangka mendukung akselerasi gerakan tanam padi bersama se-Jateng," ungkap Agus.
Wakil Bupati Rembang H.M. Hanies Cholil Barro’ turut menghadiri kegiatan tersebut dan mencoba secara langsung mesin tanam yang telah dimodifikasi oleh petani setempat.
Populasi Tanaman Berpotensi Tembus Satu Juta per Hektare
Agus menjelaskan PM-AAS menggunakan pola tanam dengan jarak antartanaman lebih rapat dibandingkan metode penanaman padi secara konvensional.
Jarak tanam yang lebih rapat memungkinkan jumlah tanaman dalam satu hektare meningkat sehingga berpotensi menghasilkan produksi padi lebih tinggi.
Konsekuensinya, kebutuhan benih dalam penerapan PM-AAS juga lebih besar dibandingkan pola tanam biasa.
Pada metode konvensional, kebutuhan benih biasanya sekitar 30 kilogram, sedangkan PM-AAS membutuhkan sekitar 70 sampai 80 kilogram benih.
"Untuk benih yang biasanya cukup 30 kilogram, metode PM-AAS membutuhkan 70 sampai 80 kilogram. Namun populasi tanamannya bisa lebih banyak tiga sampai empat kali lipat," kata Agus.
Pola tanam biasa menghasilkan populasi sekitar 300 ribu tanaman per hektare, sementara PM-AAS berpotensi meningkatkan jumlah tersebut hingga sekitar satu juta tanaman per hektare.
Peningkatan populasi tanaman tersebut diharapkan turut mendongkrak produktivitas padi dari biasanya sekitar 7 ton menjadi 10 ton per hektare.
"Produksinya menjadi meningkat, dari biasanya 7 ton menjadi sekitar 10 ton per hektare," ungkap Agus.
Rembang Ajukan Penerapan PM-AAS hingga 3.200 Hektare
Kabupaten Rembang mendapatkan target penerapan metode PM-AAS pada lahan seluas 2.070 hektare.
Setelah mempertimbangkan potensi lahan yang tersedia, Dintanpan Kabupaten Rembang mengajukan perluasan penerapan metode tersebut hingga sekitar 3.200 hektare.
Agus menilai PM-AAS cocok diterapkan pada lahan pertanian di Kabupaten Rembang sehingga pemerintah daerah mengajukan luasan penerapan melebihi target awal.
"Jadi lahan untuk uji coba metode ini Rembang sudah mengajukan dua kali lipat, lebih dari yang ditargetkan. Metode ini cocok untuk diterapkan di Rembang," kata Agus.
Salah seorang petani Desa Mojorembun, Mardi, mengatakan penerapan metode PM-AAS di wilayahnya menyasar lahan seluas 1,5 hektare.
Pemerintah memberikan dukungan kepada petani berupa bantuan benih dan penambahan alokasi pupuk karena peningkatan jumlah tanaman turut menambah kebutuhan pupuk.
Penanaman padi dilakukan menggunakan alat inovasi penanaman yang mendukung penerapan pola PM-AAS.
"Kita tanam menggunakan alat inovasi penanaman. Pemerintah membantu benih dan penambahan kuota pupuk, karena semakin banyak benih yang ditanam maka kebutuhan pupuk juga meningkat," ungkap Mardi.
Hasil Panen PM-AAS Akan Dievaluasi
Wakil Bupati Rembang H.M. Hanies Cholil Barro’ mengatakan penerapan PM-AAS menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mengembangkan sistem pertanian modern.
Metode tersebut mengadaptasi teknologi pertanian modern yang diterapkan di Arkansas, Amerika Serikat.
Meski dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas padi, penerapan PM-AAS di Rembang tetap akan dievaluasi berdasarkan efektivitas metode dan hasil produksi yang diperoleh petani.
Apabila hasil evaluasi menunjukkan PM-AAS mampu memberikan hasil optimal, metode tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan di wilayah lain di Kabupaten Rembang.
- Penulis :
- Leon Weldrick
- Editor :
- Leon Weldrick




