
Pantau - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menghadapi sejumlah agenda fiskal setelah menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, mulai dari menjaga kontinuitas penyusunan RAPBN 2027 hingga menangani kewajiban pembiayaan proyek Kereta Cepat Whoosh di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Guru Besar Ekonomi Universitas YARSI Prof Perdana Wahyu Santosa menilai transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan perlu ditempatkan dalam kerangka konsolidasi pengelolaan fiskal.
Menurut Perdana, pergantian Menteri Keuangan bukan sekadar perubahan figur karena kebijakan fiskal berpengaruh terhadap persepsi pasar mengenai arah perekonomian nasional.
Ia menilai latar belakang akademis serta pengalaman panjang Suahasil dalam birokrasi Kementerian Keuangan membuat rekam jejak dan pendekatan kebijakannya relatif telah dikenal pelaku pasar.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dan disiplin fiskal.
RAPBN 2027 Jadi Tantangan Menkeu Baru
Perdana mengatakan salah satu tantangan terdekat Suahasil adalah menjaga momentum penyusunan RAPBN 2027 di tengah kondisi suku bunga global dan likuiditas yang masih menjadi perhatian.
Menurutnya, kebijakan fiskal perlu menjalankan fungsi sebagai peredam guncangan atau shock absorber sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Ketika tekanan ekonomi meningkatkan kebutuhan belanja pemerintah, disiplin anggaran pada saat yang sama dinilai tetap diperlukan untuk menjaga kemampuan fiskal dalam jangka panjang.
Perdana berpandangan pergantian kepemimpinan tidak otomatis menyebabkan diskontinuitas kebijakan karena Kementerian Keuangan telah memiliki fondasi kelembagaan dan tata kelola yang dibangun dalam jangka panjang.
Kepemimpinan baru, menurutnya, memiliki ruang untuk menjaga konsistensi penyusunan RAPBN 2027 sekaligus mempertahankan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan kondisi eksternal.
Selain RAPBN 2027, Perdana menyoroti persoalan kewajiban pembiayaan proyek Kereta Cepat Whoosh yang menurutnya membutuhkan penyelesaian fiskal secara komprehensif dan terukur.
Ia berpandangan struktur utang dan skema penyelesaian proyek tersebut perlu ditata tanpa membebani kesehatan APBN dalam jangka panjang.
Pengelolaan Utang Whoosh Dinilai Perlu Terukur
Menurut Perdana, kepastian skema penyelesaian kewajiban Whoosh berkaitan dengan persepsi terhadap risiko fiskal dan pengelolaan kewajiban pemerintah.
Pengelolaan proyek infrastruktur berskala besar dinilai tidak hanya menyangkut manfaat ekonomi dan pelayanan, tetapi juga keberlanjutan kewajiban pembiayaannya.
Kemampuan pemerintah menangani kewajiban pembiayaan infrastruktur secara transparan dan akuntabel, menurut Perdana, dapat menjadi bagian dalam menjaga kepercayaan investor terhadap instrumen surat utang negara.
Kepercayaan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah mengelola biaya utang atau cost of debt secara berkelanjutan.
Perdana menilai penyelesaian kewajiban keuangan dapat ditempuh melalui kombinasi efisiensi belanja, optimalisasi pendapatan, serta restrukturisasi utang dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap APBN dan keberlanjutan fiskal.
Menurutnya, pendekatan pragmatis dalam kebijakan fiskal tidak berarti meninggalkan disiplin anggaran, tetapi mencari pilihan terukur di tengah kebutuhan pembangunan dan keterbatasan sumber daya.
Stabilitas Fiskal dan Kepercayaan Pasar Disorot
Perdana menilai transisi kepemimpinan Kementerian Keuangan juga menghadapi tantangan menjaga stabilitas institusional sekaligus meningkatkan respons terhadap perubahan lingkungan ekonomi.
Kemampuan mengawal RAPBN 2027 dan menyelesaikan kewajiban pembiayaan infrastruktur dinilai akan menjadi bagian dari ujian konsistensi kebijakan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil sebagai Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih untuk sisa masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Perdana berpandangan kebijakan fiskal pada akhirnya berkaitan dengan upaya menjaga kepercayaan, menyediakan ruang pertumbuhan, mempertahankan kesehatan keuangan negara, serta membangun ketahanan ekonomi secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




