HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Dorong Putaran Ketiga ISL-PTA, Pasar Sri Lanka Dibidik untuk Perluas Ekspor

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Dorong Putaran Ketiga ISL-PTA, Pasar Sri Lanka Dibidik untuk Perluas Ekspor
Foto: Menteri Perdagangan Budi Santoso melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka Anil Jayantha Fernando di Jakarta, Rabu 16/9/2026 (sumber: Kemendag)

Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong kelanjutan perundingan Indonesia-Sri Lanka Preferential Trade Agreement (ISL-PTA) melalui putaran ketiga untuk memperluas akses pasar dan peluang ekspor produk Indonesia ke Sri Lanka.

Dorongan tersebut disampaikan Budi saat bertemu Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka Anil Jayantha Fernando di Jakarta, Rabu.

Budi menekankan pentingnya Indonesia membuka pasar Sri Lanka melalui PTA yang saat ini masih dalam tahap perundingan.

Pembukaan pasar melalui perjanjian tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang ekspor produk Indonesia ke kawasan Asia Selatan.

Indonesia dan Sri Lanka Dorong Kelanjutan ISL-PTA

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah langkah untuk meningkatkan perdagangan Indonesia dan Sri Lanka, termasuk melanjutkan proses ISL-PTA melalui perundingan putaran ketiga.

"Kami membahas sejumlah upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Sri Lanka. Salah satunya adalah dengan melanjutkan ISL-PTA melalui perundingan putaran ketiga. Kami optimistis perjanjian tersebut dapat bermanfaat bagi kedua negara," kata Budi.

Indonesia dan Sri Lanka telah meluncurkan perundingan ISL-PTA pada 14 Maret 2024.

Putaran pertama perundingan dilaksanakan secara daring pada 3–4 April 2024, kemudian dilanjutkan dengan putaran kedua di Kolombo, Sri Lanka, pada 15–16 Juli 2024.

Anil menyampaikan bahwa Sri Lanka saat ini sedang melakukan review internal terhadap ISL-PTA sebagai bagian dari proses untuk melanjutkan perundingan kedua negara.

Ia berharap proses tersebut segera diselesaikan sehingga Indonesia dan Sri Lanka dapat mewujudkan hubungan perdagangan yang lebih terbuka dan kuat.

Sri Lanka Tertarik Pupuk Indonesia

Selain membahas ISL-PTA, Sri Lanka menyampaikan ketertarikan terhadap produk pupuk Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan domestiknya.

Menanggapi ketertarikan tersebut, Mendag Budi mendorong delegasi Sri Lanka memanfaatkan keikutsertaan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 untuk bertemu langsung dengan pelaku industri pupuk Indonesia.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kedua pihak untuk menjajaki peluang kerja sama di sektor pupuk.

Pada periode Januari–Juli 2026, total perdagangan Indonesia dan Sri Lanka tercatat sebesar 266 juta dolar AS, terdiri atas ekspor Indonesia sebesar 244 juta dolar AS dan impor sebesar 22 juta dolar AS.

Sepanjang 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai 530,2 juta dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke Sri Lanka sebesar 476,7 juta dolar AS dan impor sebesar 53,5 juta dolar AS.

Dengan nilai tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan dengan Sri Lanka sebesar 423,1 juta dolar AS pada 2025.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Sri Lanka meliputi kopra, mobil dan kendaraan bermotor untuk angkutan orang, serta produk setengah jadi dari besi atau baja nonpaduan.

Produk lainnya mencakup asam lemak monokarboksilat industri, minyak asam, alkohol lemak industri, tembakau mentah, dan sisa tembakau.

Sementara itu, komoditas utama yang diimpor Indonesia dari Sri Lanka antara lain kain rajutan atau kaitan, minyak bumi dan minyak yang diperoleh dari mineral bitumen, mesin pengolah tembakau, serta beragam produk ban.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026