
Pantau - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyatakan terlalu dini untuk memperkirakan kapan rantai pasokan melalui Selat Hormuz kembali berfungsi normal karena krisis di Timur Tengah masih berlangsung.
Direktur Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia Oleg Kobiakov mengatakan ketidakpastian tersebut berkaitan dengan konflik di kawasan yang hingga kini belum terselesaikan.
“Masih terlalu dini untuk membicarakan jangka waktu pemulihan fungsi normal rantai logistik yang melewati Selat Hormuz,” kata Kobiakov kepada RIA Novosti yang dipublikasikan pada Kamis (17/9/2026).
Menurut Kobiakov, perkembangan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan masih belum dapat dipastikan.
“Hasil dari konfrontasi di Timur Tengah, yang dimulai lebih dari tujuh bulan lalu, masih belum dipastikan,” kata Kobiakov.
Konflik Ganggu Aktivitas Pelayaran Selat Hormuz
Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026 yang kemudian dibalas oleh Iran.
Teheran dan Washington selanjutnya menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan pada pertengahan Juni.
Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan dan konflik hingga kini masih belum terselesaikan.
Eskalasi tersebut membuat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti.
Jalur Strategis Pasokan Energi Global Terganggu
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama bagi pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke pasar global.
Terganggunya aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut berdampak terhadap rantai logistik dan pasokan energi internasional.
Kondisi tersebut juga mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia.
FAO menilai keberlanjutan krisis membuat waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi normal rantai logistik melalui Selat Hormuz belum dapat dipastikan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




