HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Mendorong Industrialisasi Berorientasi Ekspor untuk Memperkuat Neraca Perdagangan Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Mendorong Industrialisasi Berorientasi Ekspor untuk Memperkuat Neraca Perdagangan Indonesia
Foto: (Sumber :Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (4/8/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026, bulan pertama triwulan III, masih membukukan surplus sebesar 121,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,16 triliun. Ekspor tercatat 26,22 miliar dolar AS, sedangkan impor 26,09 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/YU.)

Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industrialisasi berorientasi ekspor perlu diperkuat untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia di tengah tekanan impor minyak dan gas (migas) pada triwulan III 2026.

"Kalau ingin supaya neraca perdagangan kita terus sehat, yang didorong memang industrialisasi dan industrinya tentu saja juga yang berorientasi ekspor, bukan hanya berorientasi impor," kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Menurut Faisal, kenaikan harga minyak meningkatkan tekanan terhadap impor karena Indonesia merupakan negara pengimpor bersih minyak.

Di luar sektor migas, Faisal juga mencermati adanya kecenderungan pelemahan volume ekspor nonmigas.

Surplus Perdagangan Dinilai Berpotensi Menyempit

Faisal memperkirakan tekanan terhadap kinerja perdagangan masih berlangsung pada triwulan III 2026 sehingga surplus berpotensi menyempit.

"Kemungkinan di kuartal ketiga memang tekanan terhadap kinerja perdagangan masih cenderung terjadi. Jadi, surplusnya akan cenderung menipis dan tidak menutup kemungkinan juga akan kembali defisit," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih membukukan surplus sebesar 121,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,16 triliun.

Nilai ekspor pada periode tersebut tercatat 26,22 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 26,09 miliar dolar AS.

Surplus Juli ditopang neraca perdagangan nonmigas sebesar 3,10 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,03 triliun yang mengimbangi defisit migas sebesar 2,98 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,90 triliun.

Nilai impor migas pada Juli 2026 tercatat mencapai 3,77 miliar dolar AS atau sekitar Rp66,93 triliun.

Ekspor Manufaktur Ikut Menopang Kinerja Nonmigas

Faisal mengatakan kinerja ekspor nonmigas Indonesia setelah pandemi COVID-19 turut terbantu oleh peningkatan ekspor manufaktur.

Peningkatan tersebut antara lain berasal dari produk turunan pertambangan yang berkembang melalui kebijakan hilirisasi.

Menurut Faisal, penguatan industri yang menghasilkan produk untuk pasar ekspor diperlukan untuk mendukung keberlanjutan kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026