
Pantau - Hilirisasi kemiri yang dijalankan Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Kura di Desa Galam, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, meningkatkan nilai jual hasil kebun sekaligus mendorong masyarakat mempertahankan pohon kemiri.
Sebelum pengolahan berkembang, masyarakat umumnya menjual kemiri dalam kondisi mentah dengan harga gelondongan sekitar Rp3.000-Rp4.000 per kilogram.
Ketua KTH Batu Kura Mashudi mengingat pengolahan kemiri sebelumnya dilakukan secara tradisional dengan merebus buah dan membuka cangkangnya satu per satu karena belum tersedia mesin.
Rendahnya harga kemiri mentah membuat hasil panen belum memberikan banyak pilihan bagi petani sehingga sebagian pohon cepat ditebang setelah berbuah dan masyarakat masih menjalankan perladangan berpindah.
Mesin Pemecah Mempercepat Pengolahan Kemiri
Perubahan mulai berlangsung setelah KTH Batu Kura memperoleh legalitas dari Kementerian Kehutanan pada 2017 dan menerima dukungan Program Investasi Hutan pada 2019.
Dukungan tersebut berupa rumah produksi berukuran 6x6 meter, mesin pemecah kemiri, freezer, serta sejumlah sarana pendukung lainnya.
Rumah produksi kemudian berkembang menjadi dua kali lebih besar seiring peningkatan kapasitas kelompok tani.
Mesin pemecah berkapasitas sekitar satu ton per jam juga memangkas proses pembukaan cangkang yang sebelumnya dilakukan secara manual selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Kemiri yang jatuh dari pohon dikumpulkan petani dan dikeringkan sekitar dua hari hingga benar-benar kering sebelum disimpan di gudang.
Kemiri kering dapat disimpan hingga sekitar satu tahun sehingga kelompok memiliki keleluasaan menentukan waktu pengolahan dan penjualan.
Sebelum cangkangnya dipecahkan, kemiri dibekukan selama delapan hingga 12 jam untuk mengurangi risiko biji pecah saat diproses.
Kemiri Olahan Memiliki Nilai Jual Lebih Tinggi
Hasil pemecahan kemudian dipilah secara manual menjadi kemiri utuh, keping, serta pecahan atau koral dengan harga jual berbeda.
Dari sekitar satu ton kemiri gelondongan, kelompok dapat memperoleh sekitar 290 kilogram kemiri olahan.
Kemiri utuh dijual sekitar Rp45.000 per kilogram, sedangkan kemiri keping bernilai sekitar Rp40.000 per kilogram.
Kemiri pecahan atau koral memiliki harga sekitar Rp32.000-Rp35.000 per kilogram.
Pengolahan tersebut membuat hasil kebun tidak harus langsung dijual dalam kondisi mentah setelah panen karena kelompok dapat menyimpan bahan baku, menyesuaikan waktu penjualan, dan menghasilkan produk bernilai tambah.
Perkembangan hilirisasi itu juga membuat keberadaan pohon kemiri memiliki nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat tanpa harus ditebang setelah menghasilkan buah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




