HOME  ⁄  Ekonomi

BPH Migas Memantau Stok dan Distribusi BBM di Manggarai Barat, Pasokan Minyak Tanah Dipastikan Aman

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BPH Migas Memantau Stok dan Distribusi BBM di Manggarai Barat, Pasokan Minyak Tanah Dipastikan Aman
Foto: (Sumber :Kepala BPH Migas Wahyudi Anas (tengah) berbincang dengan warga pengguna minyak tanah dalam rangka kegiatan pengawasan di Pangkalan Minyak Tanah Wae Mbuka, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, NTT, Jumat (18/9/2026). (ANTARA/HO-Humas BPH Migas).)

Pantau - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memantau ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM), termasuk minyak tanah, Biosolar, dan Pertalite, di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan kelancaran pasokan sekaligus pelayanan energi kepada masyarakat berjalan sesuai ketentuan.

Kegiatan pengawasan pada Jumat (18/9/2026) tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR RI di NTT.

Menurut Wahyudi, ketersediaan BBM setelah bencana gempa di Flores secara umum berjalan baik dengan pasokan berasal dari Fuel Terminal Labuan Bajo dan Fuel Terminal Reo.

Stok Minyak Tanah untuk Warga Terjaga

Pasokan minyak tanah dari Fuel Terminal Reo menuju Manggarai Barat dilaporkan berjalan lancar.

Agen Minyak Tanah Wardun Perkasa Jaya memasok Pangkalan Wae Mbuka dengan rata-rata penyaluran sekitar 800 hingga 900 liter setiap tiga hari sekali.

“Dengan skema ini, stok minyak tanah di pangkalan selalu terjaga dan aman, sehingga kebutuhan memasak rumah tangga warga untuk jangka waktu 3-4 hari ke depan dapat terpenuhi dengan baik,” kata Wahyudi.

Pangkalan Minyak Tanah Wae Mbuka melayani sekitar 150 kepala keluarga dengan sistem antrean menggunakan jeriken yang telah diberi nama pemilik.

“Dengan sistem antrean jeriken ini, masyarakat cukup menyerahkan jeriken yang diberi nama kepala keluarga dan mengambilnya kembali secara rutin setelah terisi. Layanan ini ini diterapkan demi memudahkan warga di wilayah Kelurahan Wae Kelambu agar mereka dapat menyesuaikan waktu pengambilan minyak tanah,” ujar Wahyudi.

Hasil pengawasan menunjukkan rata-rata konsumsi minyak tanah setiap keluarga berada pada kisaran 2 hingga 2,5 liter per hari.

Junari (42), salah seorang pelanggan pangkalan, mengatakan keluarganya membutuhkan sekitar 20 liter minyak tanah setiap bulan.

“Terima kasih kepada pemerintah karena minyak tanah di sini selalu tersedia,” ujar Junari.

BPH Migas Pantau Penyaluran Biosolar dan Pertalite

Selain minyak tanah, BPH Migas memantau penyaluran Biosolar dan Pertalite di SPBU di Kecamatan Komodo.

Pengawasan mencakup kualitas pelayanan, ketersediaan BBM, serta kualitas dan posisi kamera CCTV.

Wahyudi mengatakan pelayanan di SPBU berlangsung kondusif meskipun terdapat antrean kendaraan roda empat yang membeli Biosolar dan Pertalite.

“Kita lihat ada beberapa sedikit antrean untuk pembelian BBM, khususnya Biosolar maupun Pertalite roda empat. Namun, pelayanan tetap dapat berjalan dengan baik dan cukup lancar,” ujar dia.

SPBU tersebut telah menggunakan kamera CCTV yang dipantau selama 24 jam.

BPH Migas merekomendasikan pengelola SPBU meningkatkan kecepatan pelayanan sekaligus memperbaiki sudut kamera CCTV agar dapat merekam kendaraan dan nomor polisi dengan lebih jelas.

“Agar rekamannya cukup baik dan kita bisa mengidentifikasi kendaraan yang berhak untuk membeli BBM tersebut,” ujar Wahyudi.

Dalam pemantauan itu, pengemudi truk bernama Rizal (25) mengatakan dirinya biasanya membeli Biosolar setiap tiga hari untuk kebutuhan operasional.

“Untuk jarak jauh seperti rute pengantaran ke Ruteng, kami hanya melakukan satu kali pengisian BBM di SPBU ini dengan biaya Rp400.000 atau 58 liter untuk sekali perjalanan pulang pergi,” katanya.

Kegiatan pengawasan tersebut turut dihadiri Sales Branch Manager PT Pertamina Patra Niaga Nusa Tenggara Timur II Fuel Yoga Pratama.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026