
Pantau - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni memperkuat kesiapan awak kapal menghadapi kondisi darurat melalui penguatan budaya keselamatan, pelatihan tanggap risiko, serta evaluasi operasional seluruh armadanya.
Sekretaris Perusahaan Pelni Ditto Pappilanda mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan sebagai penyedia layanan pelayaran nasional.
"Karena itu, penguatan budaya keselamatan perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh awak kapal. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional Pelni," kata Ditto di Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan Fleet Safety Excellence Award 2026 yang ditujukan untuk memperkuat budaya keselamatan di seluruh armada Pelni.
Awak Kapal Dilatih Hadapi Kondisi Darurat
Program Fleet Safety Excellence Award ditujukan bagi kapal dan awak kapal Pelni yang meliputi kapal penumpang, kapal perintis, kapal barang, kapal ternak, dan kapal rede.
"Program ini mencakup sejumlah aspek keselamatan, antara lain pelaksanaan emergency response dan safety drill, kepemimpinan keselamatan, pelaporan hazard dan near miss," ujarnya.
Ditto mengatakan keselamatan menjadi komitmen bersama seluruh awak kapal untuk memastikan kegiatan pelayaran berlangsung aman dan andal.
Program tersebut menyasar 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, sembilan kapal barang, satu kapal ternak, dan 17 kapal rede yang dioperasikan Pelni.
Peserta program tidak hanya mencakup kapal sebagai unit operasional, tetapi juga nakhoda, perwira, serta seluruh awak kapal yang memiliki peran dalam keselamatan, pengendalian risiko, dan kelancaran operasional.
Nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap implementasi keselamatan pelayaran serta penerapan International Safety Management (ISM) Code.
Perwira dan awak kapal menjalankan fungsi keselamatan sesuai tugas masing-masing, termasuk kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, pengendalian risiko, serta pelaporan potensi bahaya.
"Pelaksanaan emergency response dan safety drill menjadi salah satu bagian penting dalam program ini," tutur Ditto.
Struktur tanggap darurat melibatkan nakhoda sebagai pimpinan serta perwira dan awak kapal yang bertugas menangani keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan, evakuasi, komunikasi, dan dukungan operasional.
Pembagian peran tersebut dilakukan agar setiap awak memahami tugasnya dan mampu merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.
Pelni Siapkan Ribuan Alat Keselamatan
Pelni juga melengkapi armadanya dengan berbagai peralatan keselamatan untuk mendukung kesiapan menghadapi keadaan darurat selama pelayaran.
Kapal penumpang memiliki 216 lifeboat berkapasitas 24.491 orang, 1.468 life-raft berkapasitas 36.700 orang, 70.671 life-jacket, 376 life-buoy, serta 25 Marine Evacuation System (MES).
Secara keseluruhan, lifeboat dan life-raft pada kapal penumpang memiliki kapasitas mencapai 61.191 orang.
Pada kapal perintis tersedia 84 lifeboat berkapasitas 4.438 orang, 600 life-raft berkapasitas 15.000 orang, 16.253 life-jacket, dan 310 life-buoy.
Kapasitas gabungan lifeboat dan life-raft pada kapal perintis mencapai 19.438 orang.
Seluruh alat keselamatan tersebut diperiksa secara berkala oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Jumlah peralatan keselamatan telah disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, termasuk pemenuhan kapasitas alat keselamatan sebesar 125 persen dari kapasitas maksimal kapal.
“Yang kami harapkan bukan hanya munculnya kapal-kapal dengan kinerja keselamatan yang baik, tetapi terbentuknya kebiasaan dan budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten di seluruh armada," kata Ditto.
- Penulis :
- Aditya Yohan




