HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Danamon Sebut Percepatan Belanja Pemerintah Topang Permintaan Domestik Kuartal III 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Danamon Sebut Percepatan Belanja Pemerintah Topang Permintaan Domestik Kuartal III 2026
Foto: (Sumber :Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (21/8/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nz..)

Pantau - Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz menilai percepatan realisasi belanja pemerintah pusat dapat menopang permintaan domestik dalam jangka pendek, terutama pada kuartal III 2026.

Menurut Irman, peningkatan belanja sejauh ini juga diimbangi pertumbuhan penerimaan negara sehingga pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Agustus masih terbatas.

"Kebijakan fiskal diperkirakan memberikan dorongan pertumbuhan paling kuat pada kuartal III 2026. Percepatan eksekusi belanja pemerintah pusat seharusnya menopang permintaan domestik dalam jangka pendek," kata Irman berdasarkan kajian Bank Danamon Indonesia di Jakarta, Senin, 21 September 2026.

Irman memperkirakan nominal belanja pemerintah tetap besar hingga akhir tahun meski pertumbuhan tahunannya berpotensi lebih moderat pada kuartal IV karena basis realisasi belanja akhir 2025 relatif tinggi.

Belanja Negara Capai Rp2.295,7 Triliun

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi belanja negara hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari pagu APBN dan tumbuh 17,1 persen secara tahunan.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.791,5 triliun atau tumbuh 29 persen secara tahunan, terdiri atas belanja kementerian dan lembaga Rp912,4 triliun serta belanja nonkementerian dan lembaga Rp879,1 triliun.

Pada periode yang sama, pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target APBN dan tumbuh 25,4 persen secara tahunan.

Defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), relatif tidak banyak berubah dibandingkan Juli 2026 sebesar Rp236 triliun atau 0,91 persen PDB.

"Defisit yang nyaris tidak berubah mencerminkan penerimaan yang mampu mengimbangi percepatan belanja, bukan lemahnya eksekusi belanja," ujar Irman.

Penerimaan pajak hingga Agustus mencapai Rp1.409 triliun atau tumbuh 24,1 persen secara tahunan, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp435,1 triliun atau tumbuh 41,7 persen.

Danamon Proyeksikan Defisit 2,89 Persen PDB

Irman menilai pertumbuhan penerimaan berpotensi lebih normal menjelang akhir tahun karena sebagian penguatan penerimaan pajak secara neto dipengaruhi dinamika restitusi dan sebagian kenaikan PNBP berasal dari penerimaan tidak berulang.

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat realisasi restitusi pajak hingga Agustus 2026 sebesar Rp191,82 triliun atau turun 37 persen dibandingkan Rp304,29 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Bank Danamon memproyeksikan defisit fiskal 2026 mencapai 2,89 persen PDB, sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi pemerintah sebesar 2,85 persen PDB.

Irman memperkirakan percepatan belanja program prioritas serta subsidi dan kompensasi energi akan meningkatkan kebutuhan belanja hingga akhir tahun.

"Pelebaran defisit yang diperkirakan masih dapat dikelola dari sisi pembiayaan dan likuiditas. Pembiayaan anggaran telah mencapai Rp474 triliun atau 68,7 persen dari rencana tahunan, sementara keseimbangan primer masih mencatat surplus," ucap dia.

Keseimbangan primer APBN hingga Agustus masih mencatat surplus Rp154 triliun.

Pemerintah memproyeksikan pendapatan negara sepanjang 2026 mencapai Rp3.208,1 triliun dan belanja negara Rp3.942,4 triliun dengan defisit Rp734,3 triliun atau 2,85 persen PDB.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan kinerja APBN hingga Agustus tetap berada pada jalur yang direncanakan dengan dukungan keseimbangan primer positif dan defisit yang masih terkendali.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026