
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Pangan menilai inovasi menjadi salah satu kunci menghadapi tantangan multidimensi terhadap ketahanan pangan nasional, mulai dari perubahan iklim, gejolak harga, bencana alam, infrastruktur logistik, hingga penyusutan lahan produktif.
Asisten Deputi Logistik Pangan Kemenko Pangan Ridky Irfan Wirautama menyampaikan pandangan tersebut dalam Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 yang diselenggarakan PT SUCOFINDO (Persero) di Bali pada 10 September 2026.
"Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi," kata Ridky dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Ridky, sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu prioritas pemerintah, tetapi penguatan ketahanan pangan menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.
Ekonomi Sirkular hingga Pelabuhan Cerdas Didorong
Pemerintah terus memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan sekaligus melakukan mitigasi terhadap dampak fenomena iklim ekstrem.
Pada sektor logistik maritim, pemerintah mendorong pengembangan pelabuhan hijau dan cerdas atau green and smart port melalui digitalisasi, tata kelola modern, budaya Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), serta prinsip 3R berupa reduce, reuse, dan recycle.
Pengembangan ekonomi biru atau blue economy juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
Konsep tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan berprotein, menciptakan lapangan kerja, dan membuka peluang investasi.
"Pada 2026, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dicanangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari produksi penangkapan, pengolahan, fasilitas pendingin dan penyimpanan, hingga jaringan distribusi pasar," ujar Ridky.
Ridky menegaskan penguatan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan penyelarasan kebijakan agar rantai pasok serta logistik pangan berjalan efektif dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Pasar Karbon Jadi Isu Strategis ENSIA 2026
ENSIA 2026 yang mengusung tema Innovation for Sustainable Business and Resilient Community turut menyoroti pengembangan pasar karbon sebagai isu strategis selain ketahanan rantai pasok pangan.
Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC) Bonn Choi mengatakan implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris atau Paris Agreement membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon sebagai instrumen pengurangan emisi.
Menurut Bonn, investasi pada teknologi inovatif dan fasilitas rendah emisi dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang memiliki nilai ekonomi melalui mekanisme pasar karbon sesuai ketentuan.
"Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon," ujar Bonn.
Ia menyebut Indonesia memiliki potensi proyek pengurangan emisi pada sektor energi, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).
"Dengan mengidentifikasi sektor prioritas, Indonesia dapat mengarahkan investasi karbon secara terukur pada proyek-proyek yang memiliki dampak lingkungan riil, manfaat ekonomi nyata, dan kontribusi pembangunan yang lebih besar," katanya menjelaskan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




