
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan memangkas birokrasi, termasuk mempersingkat proses tender, untuk mempercepat realisasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Bahlil mengatakan Kementerian ESDM tengah menyesuaikan aturan bagi perusahaan yang dinilai kompetitif dan memiliki kemampuan teknologi yang baik.
"Sekarang saya lagi melakukan penyesuaian aturan bagi perusahaan-perusahaan yang memang kompetitif dan mempunyai kemampuan teknologi yang baik, kami pertimbangkan untuk tendernya tidak perlu terlalu lama," ungkap Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten, Selasa.
Perusahaan Ekonomis Bisa Langsung Ditunjuk
Bahlil menyampaikan pemerintah mempertimbangkan penunjukan langsung terhadap perusahaan yang memenuhi kriteria dan menawarkan nilai ekonomis sebagai alternatif dari proses tender yang berlarut-larut.
Menurut dia, pemangkasan proses tersebut diperlukan agar waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan pembangunan PLTS 100 GW dapat dipersingkat.
Aspek ekonomis dan skema kerja sama yang saling menguntungkan menjadi pertimbangan dalam menentukan perusahaan yang dapat ditunjuk.
"Kami pangkas birokrasinya. Kalau memang ekonomis, kami tunjuk dia saja. Enggak usah terlalu lama-lama, yang penting bisa saling menguntungkan dan win-win. Win-win itu yang paling penting," kata Bahlil.
Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan pemangkasan birokrasi antara lain akan menyasar lamanya proses tender dan kajian proyek.
Pemerintah juga akan menghilangkan jeda waktu yang muncul ketika terjadi gagal lelang sebelum proses tender kembali dilakukan.
"Misalnya, tendernya yang makan waktu yang lama, kajiannya terlalu lama, kemudian kalau misalnya terjadi gagal lelang, terus kemudian ada break dulu baru dilelang lagi, dan lain sebagainya, itu yang dipangkas," ujar Tri.
Prabowo Targetkan PLTS 100 GW Rampung Tiga Tahun
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW dapat diselesaikan Indonesia dalam waktu tiga tahun guna mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Target tersebut melampaui kapasitas pembangkit listrik Indonesia saat ini yang mencapai 88 GW dari berbagai sumber energi, termasuk batu bara, minyak, gas, dan panas bumi atau geothermal.
Pembangunan PLTS 100 GW juga diharapkan dapat mengurangi pengeluaran negara melalui efisiensi biaya listrik.
Program tersebut disebut berpotensi mendukung efisiensi biaya listrik hingga mencapai Rp73,9 triliun.
- Penulis :
- Shila Glorya




