HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Proyeksikan BI-Rate Bertahan 5,75 Persen pada September, Kenaikan Terbuka di Akhir 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Proyeksikan BI-Rate Bertahan 5,75 Persen pada September, Kenaikan Terbuka di Akhir 2026
Foto: (Sumber :Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Bank Indonesia tetap memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen agar tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym..)

Pantau - Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur September 2026, sementara peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun dinilai tetap terbuka apabila tekanan eksternal dan inflasi meningkat.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai kondisi eksternal masih menghadapi tantangan akibat perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.

Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong sejumlah bank sentral meninjau kembali kebijakan moneternya, termasuk The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.

Risiko peningkatan ketegangan Rusia dan Ukraina juga dinilai dapat menekan harga energi dan komoditas global serta memunculkan tambahan tekanan inflasi.

Dari dalam negeri, inflasi masih berada dalam kisaran target BI, tetapi pergerakan harga energi tetap menjadi salah satu sumber potensial tekanan inflasi.

Riefky menilai perkembangan tersebut membuat ruang BI untuk menurunkan suku bunga dalam jangka pendek semakin terbatas setelah BI-Rate naik 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.

“Kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada akhir tahun ini atau awal 2027 apabila kondisi eksternal memburuk dan tekanan inflasi meningkat,” kata Riefky.

Ekonom Proyeksikan BI-Rate Bisa Naik pada Akhir Tahun

Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman juga memperkirakan BI-Rate tetap berada pada level 5,75 persen pada September 2026.

Tim ekonom PermataBank merevisi proyeksi dasarnya dengan memperhitungkan tambahan kenaikan 25 basis poin pada kuartal IV-2026 seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate (FFR).

“Kami memperkirakan BI akan menaikkan BI-Rate menjadi 6,00 persen pada akhir 2026,” kata Faisal.

Faisal menjelaskan kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan ahead of the curve sebagai respons terhadap ekspektasi kenaikan FFR pada paruh kedua 2026.

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz juga memproyeksikan BI-Rate tetap pada September, tetapi melihat ruang kenaikan secara pre-emptive apabila tekanan eksternal semakin persisten.

“Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate dapat mencapai 6,25 persen pada akhir 2026,” kata Faiz.

Stabilitas Rupiah Jadi Perhatian

Faiz mengatakan diferensial suku bunga dan stabilitas rupiah semakin penting setelah kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC September yang disertai masih terbukanya ruang pengetatan lanjutan.

“Namun, selama tekanan rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi valas, DNDF, serta instrumen moneter lainnya, kami melihat BI masih akan mengutamakan kebijakan non-suku bunga sebagai lini pertahanan pertama,” kata dia.

Menurut Faiz, peningkatan insentif swap lindung nilai menjadi 12,5 persen serta DNDF menjadi 15 persen dapat membuat biaya hedging lebih menarik dan mendorong dana valuta asing bertahan lebih lama di pasar domestik.

Ia menilai instrumen tersebut memiliki keterbatasan apabila tekanan berasal dari shock global yang besar dan persisten sehingga diferensial suku bunga tetap perlu diperhatikan.

Tim ekonom Bank Danamon juga melihat risiko pelemahan rupiah dalam jangka pendek akibat kombinasi kebijakan The Fed, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan tingginya harga minyak.

“Proyeksi kami untuk USD/IDR (nilai tukar rupiah terhadap dolar AS) akhir 2026 berada di sekitar Rp17.963 per dolar AS,” kata Faiz.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026