
Pantau - Kapal perintis yang melayani Pulau Sabutung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menjadi sarana penting bagi warga untuk menjangkau daratan dengan biaya lebih terjangkau sekaligus mendukung aktivitas pendidikan, pemerintahan, perdagangan, dan kebutuhan sehari-hari.
Pulau Sabutung yang dihuni 1.453 jiwa memiliki masyarakat dengan mobilitas rutin menuju daratan, mulai dari berdagang, mengurus administrasi hingga menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Kehadiran kapal perintis milik PT ASDP Indonesia Ferry Regional 4 sejak 23 Januari 2023 membuat perjalanan tersebut lebih mudah bagi masyarakat kepulauan.
Haedar, guru Sekolah Pesantren Kelautan Perak di Pulau Sabutung, menjadi salah satu warga yang memanfaatkan kapal tersebut untuk bolak-balik menuju daratan Kabupaten Pangkep.
"Kalau naik kapal perintis tarifnya sangat terjangkau, sekitar Rp21 ribu per orang. Kalau membawa motor hanya tambah Rp5 ribu. Ini sangat membantu kami yang sering bolak-balik ke kota Kabupaten Pangkep," kata Haedar.
Tarif Terjangkau dan Perjalanan Lebih Aman
Tarif kapal perintis lebih ringan dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan warga apabila menggunakan kapal kayu atau kapal nelayan.
Untuk sekali perjalanan menggunakan kapal kayu atau kapal nelayan, warga dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per orang.
Perbedaan biaya tersebut memberikan dampak bagi masyarakat yang harus melakukan perjalanan secara rutin antara pulau dan daratan.
Selain persoalan tarif, Haedar menilai aspek keamanan menjadi alasan penting bagi masyarakat menggunakan kapal perintis.
Warga Pulau Sabutung harus menghadapi perubahan cuaca, termasuk angin kencang dan gelombang tinggi yang membuat perjalanan dengan kapal kayu atau kapal nelayan lebih menantang.
Haedar menilai kapal perintis memberikan rasa lebih aman ketika menghadapi kondisi cuaca ekstrem dibandingkan kapal kayu atau kapal nelayan.
Kehadiran layanan tersebut turut membantu guru menjalankan tugas, ASN mengurus pekerjaan pemerintahan, pedagang membawa barang dagangan, serta masyarakat mengakses berbagai pelayanan di daratan.
ASDP Perkuat Konektivitas Indonesia Timur
Executive Director ASDP Regional 4 Imran Kuru mengatakan konektivitas menjadi salah satu fokus perusahaan karena wilayah kerja Regional 4 mencakup Sulawesi, Maluku hingga Papua.
ASDP Regional 4 memiliki 10 cabang yang terdiri atas lima cabang di Sulawesi, dua cabang di Maluku, dan tiga cabang di Papua.
Di Sulawesi Selatan, konektivitas tersebut salah satunya diwujudkan melalui lintasan Maccini Baji-Pulau Sabutung di Pangkep.
Layanan penyeberangan juga berperan menghubungkan Pelabuhan Bajoe di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dengan Pelabuhan Kolaka di Sulawesi Tenggara.
ASDP mencatat Pelabuhan Bajoe melayani lebih dari 28 ribu penumpang dan sekitar 56 ribu kendaraan sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026.
Mobilitas tersebut menunjukkan peran transportasi penyeberangan dalam pergerakan masyarakat dan kendaraan antardaerah di Sulawesi.
ASDP Regional 4 juga melihat peluang pengembangan konektivitas dan logistik, termasuk kemungkinan membuka koneksi menuju Surabaya, Jawa Timur.
Transportasi Laut Buka Peluang Pariwisata
Penguatan konektivitas laut turut membuka peluang pengembangan sektor pariwisata di kawasan kepulauan Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.
Pelabuhan Bajoe mulai dirintis menjadi tujuan wisata sebagai bagian dari pengembangan peran pelayanan publik.
ASDP bersama Universitas Hasanuddin juga menjajaki produksi perahu tradisional Phinisi yang proses pembuatannya akan didampingi agar mengikuti standar kapal untuk menjaga keamanan penumpang.
Bupati Pangkajene dan Kepulauan Muhammad Yusran Lalogau mengatakan keberadaan kapal menentukan kemudahan masyarakat pulau dalam mengakses kehidupan di luar wilayah mereka.
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memiliki 117 pulau yang tersebar di Selat Makassar hingga mendekati wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Konektivitas transportasi laut membuat masyarakat kepulauan memiliki akses untuk bekerja, belajar, berdagang, mengurus administrasi, serta memperoleh berbagai pelayanan di daratan.
Bagi warga Pulau Sabutung, kapal perintis pun menjadi penghubung yang membuat jarak geografis dengan daratan tidak sepenuhnya menjadi penghalang aktivitas sehari-hari.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




