
Pantau - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka peluang dukungan pendanaan senilai Rp300 juta hingga Rp500 juta bagi usaha kecil, menengah, dan koperasi (UKMK) untuk mengembangkan hilirisasi usaha berbasis komoditas perkebunan.
Pelaksana Tugas Kepala Divisi Penyaluran Dana Program Pangan dan Hilirisasi BPDP Arfie Thahar mengatakan hilirisasi komoditas perkebunan dapat menjadi jalan bagi UKMK untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing produk di pasar.
"BPDP membuka peluang bagi UKMK yang memiliki ide dan rencana bisnis berbasis komoditas perkebunan. Melalui Program Pangan dan Hilirisasi, dukungan pendanaan bagi UKMK dapat mencapai Rp300 juta hingga Rp500 juta," ujar Arfie dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
BPDP Buka Pengajuan Proposal hingga 30 Oktober 2026
BPDP juga membuka peluang pendanaan untuk pengembangan usaha dalam skala lebih besar, termasuk pembangunan fasilitas produksi hingga pendirian pabrik.
Arfie mengatakan besaran kebutuhan pendanaan bukan menjadi satu-satunya pertimbangan BPDP dalam menentukan penerima program karena setiap proposal akan dinilai secara menyeluruh.
Penilaian tersebut antara lain mencakup kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, potensi pasar, kelayakan finansial, serta dampak dan pertimbangan lingkungan.
Karena itu, UKMK tidak cukup hanya memiliki gagasan produk, tetapi juga perlu menunjukkan ketersediaan bahan baku, prospek pasar, model bisnis yang jelas, serta kemampuan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Dalam Workshop Hilirisasi Komoditas Perkebunan sebagai Inkubasi Bisnis UKMK di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Arfie menyampaikan BPDP membuka call for proposal Program Pangan dan Hilirisasi hingga 30 Oktober 2026.
Arfie berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan berbagai gagasan bisnis konkret dari pelaku UKMK yang kemudian dikembangkan menjadi proposal untuk mengikuti program pendanaan BPDP.
UMKM Dinilai Strategis Dorong Hilirisasi Perkebunan
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah mengatakan Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan UMKM berbasis komoditas perkebunan karena memiliki potensi sawit, kakao, dan kelapa.
Berbagai komoditas perkebunan tersebut dapat diolah menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Menurut Helmi, UMKM memiliki posisi strategis dalam mendorong hilirisasi sehingga petani dan pelaku usaha dapat memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari kegiatan pengolahan.
Helmi mengatakan konsep UMKM naik kelas juga tidak hanya diukur melalui peningkatan aset, omzet, dan kualitas manajemen, tetapi dapat mencakup peran dalam memperkenalkan manfaat komoditas perkebunan Indonesia.
"Sisi naik kelasnya selain omzetnya meningkat dan manajemennya bagus, juga ikut mengampanyekan kebaikan-kebaikan komoditas ini," ujar Helmi.
Khusus komoditas sawit, pelaku UMKM dinilai dapat berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan beragam produk turunan sawit.
Dengan pendekatan tersebut, perkembangan UMKM diharapkan tidak hanya memperkuat bisnis pelaku usaha, tetapi juga memberikan kontribusi kepada masyarakat, petani, dan ekosistem perkebunan nasional.
Produk Turunan Sawit Buka Peluang bagi UKMK
Direktur Pusat Studi Kelapa Sawit Instiper Purwadi mengatakan hilirisasi sawit tidak hanya menjadi ruang bagi industri berskala besar karena UKMK juga memiliki peluang mengembangkan berbagai produk turunannya.
Menurut Purwadi, minyak sawit tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi bahan baku beragam kebutuhan sehari-hari, termasuk produk kosmetik.
Pernyataan tersebut disampaikan Purwadi dalam kegiatan yang digelar majalah Hortus Archipelago.
Purwadi menilai pemahaman mengenai produk turunan komoditas perkebunan perlu terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda dan pelaku usaha.
Dengan pemahaman yang lebih baik, pelaku usaha diharapkan dapat melihat peluang hilirisasi tidak hanya dari penjualan bahan mentah, tetapi juga melalui pengembangan produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
- Penulis :
- Leon Weldrick




