HOME  ⁄  Ekonomi

Kemenkeu–BI Perjelas Koordinasi Lima Pilar, Pasar Minta Realisasi Yield Obligasi

Oleh Khalied Malvino
SHARE   :

Kemenkeu–BI Perjelas Koordinasi Lima Pilar, Pasar Minta Realisasi Yield Obligasi
Foto: Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. (Dok. Antara)

Pantau - Kerangka koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berdiri di atas fondasi yang lebih jelas. Dua lembaga menyepakati lima pilar utama—pertumbuhan ekonomi, ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar keuangan—sebagai benteng pertahanan nasional.

Namun, lonjakan yield obligasi global dan mahalnya harga modal internasional langsung menguji arsitektur anyar itu di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai penegasan lima pilar tersebut sebagai sinyal positif.

Kendati demikian, pasar keuangan tidak berhenti pada kesepakatan tertulis. Pelaku pasar segera menguji efektivitas koordinasi dua lembaga dalam situasi pelik.

"Dua lembaga kini punya kerangka kerja yang jauh lebih jelas. Tetapi justru karena kerangkanya sudah benderang, pasar akan segera menguji bagaimana koordinasi itu mengeksekusi lapangan saat kondisi sulit," ujar Fakhrul melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Cari Titik Keseimbangan Natural

Fakhrul menyarankan pemerintah dan BI menghentikan upaya mempertahankan yield SBN di level serendah mungkin. Pertanyaan krusial di meja perdagangan bergeser pada pencarian titik market-clearing yield Indonesia yang sebenarnya.

"Di level berapa investor bersedia menyerap obligasi pemerintah secara natural? Tanpa harus terlalu bergantung pada dukungan kebijakan atau suntikan likuiditas tambahan," tegas Fakhrul.

Kenaikan yield obligasi dalam negeri tidak serta-merta menandakan kemerosotan kredibilitas Indonesia. Sebagian kenaikan timbul dari lonjakan suku bunga bebas risiko global (global risk-free rate) serta kenaikan term premium.

Otoritas perlu memisahkan kenaikan akibat penyesuaian harga global (global repricing) dari kenaikan akibat risiko spesifik Indonesia (Indonesia-specific risk premium). Otoritas wajib mencegah jenis kedua, namun gejolak dari faktor pertama berada di luar kendali domestik.

Bahaya Memindahkan Risiko

Pemaksaan yield domestik di level yang terlalu rendah dibanding ekspektasi investor marginal tidak menghilangkan tekanan pasar. Beban penyesuaian justru berpindah ke kanal lain.

"Jika harga obligasi tidak cukup menyesuaikan, dampaknya bisa merembet ke penurunan permintaan asing, serapan lelang yang minim, tekanan pada Rupiah, hingga pasar saham. Menahan yield terlalu rendah bukan berarti menghilangkan risiko, tapi cuma memindahkan risikonya," paparnya.

Proses pembentukan harga secara alami (price discovery) di pasar obligasi menjadi kunci stabilitas eksternal. Yield yang gagal mencerminkan harga modal dunia menghilangkan kompensasi wajar bagi investor asing. Dampaknya, sentimen pasar memburuk dan mengganggu optimisme ekonomi nasional.

Ujian Kredibilitas di Mata Pasar

Lima pilar koordinasi menyediakan instrumen yang memadai. Pilar ketahanan eksternal bertugas memicu inflow dan menekan biaya hedging.

Pilar likuiditas menjaga kelancaran pasokan dana, sedangkan pilar pendalaman pasar mencegah timbulnya distorsi antara SBN, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan instrumen perbankan. Namun, Fakhrul mengingatkan agar koordinasi tidak menjelma menjadi upaya mendikte harga pasar.

"Koordinasi tidak boleh menggantikan price discovery. Koordinasi justru harus memastikan price discovery bisa terjadi tanpa membuat sistem menjadi tidak stabil," tegas Fakhrul.

Otoritas perlu menetapkan imbal hasil terendah yang berkelanjutan (the lowest sustainable market-clearing yield) sebagai sasaran kebijakan, bukan sekadar imbal hasil terendah (the lowest possible yield).

"Yield yang murah di kertas tapi tidak diserap investor itu bukan yield yang murah. Kalau koordinasi hanya terlihat kuat di atas kertas tapi harga pasar tidak diberi ruang menyesuaikan, pasar akan bertanya: sebenarnya fungsi koordinasinya apa? Market-clearing yield ini akan menjadi ujian kredibilitas pertama dari arsitektur anyar Kemenkeu dan BI," pungkasnya.

Penulis :
Khalied Malvino
FLOII 2026