HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Diprediksi Melemah akibat Aksi Ambil Untung Menjelang Akhir Pekan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Diprediksi Melemah akibat Aksi Ambil Untung Menjelang Akhir Pekan
Foto: (Sumber :Pengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/agr.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (25/9/2026) diperkirakan bergerak melemah seiring potensi aksi ambil untung atau profit taking pelaku pasar menjelang akhir pekan.

Setelah dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.40 WIB melemah 13,05 poin atau 0,21 persen ke posisi 6.285,56.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 1,35 poin atau 0,22 persen ke posisi 621,91.

“Diperkirakan IHSG kembali uji level 6.186- 6.200 pada perdagangan Jumat,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Pasar Mencermati Sentimen Global

Pelaku pasar mencermati perkembangan global, termasuk kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) dengan isu perdagangan dan kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian.

Pasar juga menghadapi kenaikan yield obligasi jangka menengah dan panjang di sejumlah negara dengan ekonomi besar, termasuk AS, Jepang, Prancis, dan Inggris.

“Kenaikan yield ini karena kekhawatiran akan kenaikan suku bunga, tekanan inflasi akibat biaya energi yang terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi yang lesu, serta belanja fiskal yang tinggi,” jelas Ratna.

Harga minyak mentah Brent ditutup menguat 3,4 persen menjadi 106 dolar AS per barel, sedangkan minyak WTI naik hampir 2,7 persen menjadi 94 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah laporan mengenai pembahasan kesepakatan bertahap oleh negosiator AS dan Iran di New York.

Bursa Eropa kompak melemah pada penutupan Kamis (24/9/2026), dengan Euro Stoxx 50 turun 0,43 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,24 persen, DAX Jerman turun 0,57 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,52 persen.

Wall Street mayoritas melemah dengan S&P 500 turun 0,02 persen ke 7.704,13 dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen ke 51.349,98, sedangkan Nasdaq Composite naik tipis 0,01 persen menjadi 26.939,37.

Likuiditas Domestik Menjadi Perhatian

Dari dalam negeri, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) Indonesia pada Agustus 2026 meningkat 8,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp10.448,1 triliun.

Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 8,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) melambat menjadi 9,0 persen dari 10 persen, sedangkan uang kuasi meningkat menjadi 6,5 persen dari 5,6 persen secara tahunan.

Pertumbuhan giro rupiah melambat menjadi 7,1 persen dari 10,9 persen, sementara tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu meningkat menjadi 8,9 persen dari 6,8 persen.

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat mengalami kontraksi 7,0 persen secara tahunan setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 4,6 persen.

“Kombinasi pertumbuhan kredit yang ekspansif dan likuiditas yang sehat menjadi sinyal positif untuk saham sektor perbankan besar dan konsumer, yang dapat diakumulasi secara bertahap. Sementara itu kenaikan harga minyak berpotensi menjadi faktor positif bagi saham energi dan yang terkait,” ujar Ratna.

Pada perdagangan Asia Jumat pagi, Nikkei menguat 1,28 persen ke 66.350, sedangkan Shanghai melemah 1,22 persen ke 3.888,37 dan Hang Seng turun 1,77 persen ke 24.322,24.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026