HOME  ⁄  Ekonomi

Media Sosial Menggeser Peran Humas, Keaslian Pemilik UMKM Dinilai Lebih Menarik Perhatian Publik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Media Sosial Menggeser Peran Humas, Keaslian Pemilik UMKM Dinilai Lebih Menarik Perhatian Publik
Foto: (Sumber :SIG memfasilitasi pelatihan workshop live Tiktok di gerai Rumah BUMN SIG, Rembang, Jawa Tengah (ANTARA/HO PT Semen Indonesia (Persero) Tbk).)

Pantau - Perkembangan TikTok dan Instagram dinilai telah menggeser praktik public relations (PR) atau hubungan masyarakat karena pemilik usaha kini dapat menjalankan sendiri fungsi komunikasi dengan publik melalui media sosial.

Dyva Claretta dalam tulisannya menyoroti fenomena pemilik UMKM yang tampil apa adanya ketika mempromosikan produk dan berinteraksi langsung dengan pengikutnya.

Menurut dia, praktik tersebut menunjukkan gejala deinstitusionalisasi humas karena fungsi komunikasi publik tidak lagi selalu bergantung pada divisi khusus, juru bicara, maupun siaran pers.

Pemilik usaha kini dapat menggunakan gawai untuk berkomunikasi langsung dengan follower sekaligus membangun kedekatan dengan calon konsumen.

Keaslian Konten Jadi Daya Tarik

Dyva menyebut puluhan UMKM kuliner di Surabaya yang diamatinya tidak memiliki staf humas, tetapi para pemiliknya menjalankan sendiri fungsi tersebut.

Menurut dia, perubahan pola komunikasi di era algoritma membuat empati menjadi salah satu unsur yang menarik perhatian pengguna media sosial.

Ia mencontohkan pengalamannya membeli seblak secara daring setelah melihat pemilik usaha tampil dalam sebuah video dengan pakaian sehari-hari dan menceritakan dagangannya yang belum habis.

“Rek, hari ini dagangan gak habis, bantuin ya,” kata pemilik usaha tersebut sebagaimana dikutip Dyva.

Menurut Dyva, video itu ditonton 200 ribu kali, mendapatkan banyak komentar berisi dukungan, dan dagangan pemilik usaha tersebut kemudian habis terjual.

Ia membandingkan fenomena itu dengan konten sebuah akun resmi institusi yang memiliki desain rapi dan menggunakan narasi formal.

“Kami berkomitmen,” demikian kalimat dalam konten institusi yang dikutip Dyva.

Menurut pengamatannya, unggahan tersebut hanya memperoleh 12 likes.

Empati Dinilai Mengubah Pola Komunikasi Digital

Dyva menggunakan istilah model empati algoritma untuk menggambarkan hubungan antara autentisitas konten, respons pengguna, dan distribusi konten di media sosial.

Menurut dia, interaksi seperti durasi menonton, komentar, dan share menjadi bagian dari respons pengguna yang dapat memengaruhi jangkauan sebuah konten.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan cara sebagian pelaku usaha membangun komunikasi dengan publik, dari pola komunikasi institusional menuju interaksi langsung melalui platform digital.

Dyva menilai fenomena pemilik usaha dengan pakaian sehari-hari yang lebih menarik perhatian dibandingkan komunikasi formal bukan merupakan akhir dari profesi humas, melainkan bagian dari pergeseran praktik komunikasi di era media sosial.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026