HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, BI Sebut Tekanan Inflasi Global dan Risiko Fiskal Jadi Pemicu

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, BI Sebut Tekanan Inflasi Global dan Risiko Fiskal Jadi Pemicu
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Karyawan menunjukkan angka pada kalkulator di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.)

Pantau - Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa (29/9/2026) dipengaruhi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, risiko fiskal, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir triwulan III.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan global meningkat seiring harga minyak yang menembus 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

“Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, tertinggi sejak 2007,” kata Erwin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.

BI Perkuat Intervensi Stabilkan Rupiah

Erwin memastikan BI terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik serta mempertahankan stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya.

BI juga mengelola struktur suku bunga pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter pro-market.

Upaya stabilisasi turut dilakukan dengan meningkatkan insentif terhadap instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) untuk lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.

BI akan melanjutkan intervensi secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” ujar dia.

Rupiah Melemah 0,67 Persen secara Quarter-to-Date

Erwin mengatakan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan atau regional.

Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat mengalami pelemahan terbatas sebesar 0,67 persen.

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar tersebut, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026