HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia dan Jepang Perkuat Pertanian Biochar, Petani Berpeluang Raup Manfaat dari Kredit Karbon

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia dan Jepang Perkuat Pertanian Biochar, Petani Berpeluang Raup Manfaat dari Kredit Karbon
Foto: Seorang petugas memberikan penjelasan tentang biochar untuk mendukung pertanian regeneratif kepada pengunjung "Festival Pertanian Regeneratif: Inovasi Biochar" di Malang, Jawa Timur pada, Sabtu 6/6/2026 (sumber: ANTARA/HO-Syngenta Indonesia)

Pantau - Indonesia dan Jepang memperkuat kolaborasi pengembangan pertanian regeneratif berbasis biochar untuk meningkatkan kesehatan tanah, membuka peluang kredit karbon, serta menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi petani.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan pertanian regeneratif berfokus pada peningkatan kesehatan tanah agar mampu menopang pertanian berkelanjutan sekaligus memberikan keuntungan kepada petani.

“Biochar menjadi teknologi kunci untuk menyehatkan tanah, meningkatkan produksi pertanian, sekaligus menahan laju perubahan iklim,” kata Eko dalam Workshop on Carbon Credit Methodology to Strengthen Agricultural Extension on Applying Biochar for Land and Regenerative Agriculture yang digelar secara hibrida di Jakarta, Selasa.

Menurut Eko, kredit karbon kini menjadi pembahasan global agar setiap negara yang berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim dapat memperoleh manfaat secara berkeadilan.

Limbah Pertanian Berpotensi Menyerap 883.585 Ton Karbon per Tahun

Pertanian berbasis biochar dinilai memiliki peran penting karena mampu menahan karbon organik dari residu pertanian sehingga tidak terlepas ke atmosfer dan turut memicu perubahan iklim.

Indonesia dinilai perlu menguasai metode penghitungan kredit karbon agar besarnya kontribusi dari penerapan biochar dapat diketahui dan diukur.

“Pemerintah mengambil momentum agar sistem kredit karbon yang diterapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Eko.

Eko menyebut limbah biomassa pertanian kering di Indonesia mencapai 21.944.661 ton per tahun.

Apabila seluruh limbah tersebut diolah menjadi biochar, pemanfaatannya diperkirakan berpotensi menyerap karbon organik hingga 883.585 ton per tahun.

Limbah kelapa sawit, termasuk tebangan tanaman tua yang diremajakan, dinilai menjadi salah satu sumber bahan baku biochar dengan volume terbesar.

“Kesadaran untuk memahami metode itu, mendorong pemerintah Indonesia-Jepang menggelar workshop perhitungan kredit karbon,” ungkap Eko.

Lokakarya tersebut mempertemukan sekitar 75 peserta dari Indonesia dan Jepang yang berasal dari unsur pemerintah, penyuluh pertanian, peneliti dan akademisi, industri biochar, pengembang proyek karbon, sektor swasta, serta organisasi internasional.

“Perwakilan negara-negara anggota ASEAN juga mengikuti kegiatan secara daring,” kata Eko.

Kegiatan tersebut diselenggarakan BPPSDMP Kementerian Pertanian bersama National Agriculture and Food Research Organization (NARO) Jepang dan Ritsumeikan University Jepang dengan dukungan Universitas Tribhuwana Tunggadewi.

Biochar Dinilai Bisa Berikan Manfaat Ekonomi kepada Petani

Executive Director Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) Phil Rickard menilai Indonesia memiliki peluang memperoleh manfaat ekonomi dari perdagangan karbon melalui pengembangan pertanian berbasis biochar.

Biochar dari limbah pertanian dapat dimasukkan ke dalam tanah sehingga karbon mampu tersimpan selama puluhan tahun tanpa terlepas ke atmosfer.

“Petani yang menerapkan teknologi biochar layak mendapat benefit ekonomi karena mencegah laju perubahan iklim,” ujar Phil.

Pengajar Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan sektor pertanian di berbagai negara, termasuk kawasan ASEAN, menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, serta penurunan kesuburan tanah.

“Biochar merupakan salah satu inovasi yang dapat mendukung pertanian regeneratif,” kata Dedi.

Biochar merupakan bahan kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan bahan organik dengan jumlah oksigen terbatas atau pirolisis.

Penggunaan biochar pada tanah berpotensi meningkatkan retensi hara, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta membantu memperbaiki sejumlah sifat tanah.

Karbon dalam biochar juga dapat bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu relatif panjang sehingga berpotensi mendukung mitigasi perubahan iklim.

“Karakteristik tersebut yang menghubungkan program biochar dengan mekanisme kredit karbon,” ungkap Dedi.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026