HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS, Pasar Waspadai Pengetatan The Fed

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS, Pasar Waspadai Pengetatan The Fed
Foto: Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa 12/5/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.981 per dolar AS pada perdagangan Selasa dari sebelumnya Rp17.978 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah antara lain dipengaruhi potensi pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Tingginya harga minyak menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali memperketat kebijakan moneternya.

“Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir,” kata Ibrahim.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar melihat peluang sebesar 70 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah pejabat The Fed pada pekan sebelumnya menyampaikan pernyataan bernada hawkish.

Pasar Tunggu Data Ekonomi Amerika Serikat

Pelaku pasar turut menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis sepanjang pekan untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu, 30 September, disusul ISM Manufacturing PMI pada Kamis, 1 Oktober.

Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat kemudian dijadwalkan dirilis pada Jumat, 2 Oktober.

Pernyataan sejumlah pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian pasar untuk memperoleh gambaran mengenai langkah kebijakan bank sentral AS selanjutnya.

Pembicaraan AS-Iran Turut Jadi Perhatian

Selain kebijakan moneter dan data ekonomi AS, pelaku pasar mencermati potensi pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang.

Pembicaraan tersebut diperkirakan berfokus pada versi revisi proposal tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Ibrahim, proposal itu mencakup penghentian permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

“Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran,” ujar Ibrahim.

Kurs JISDOR Turut Melemah

Pelemahan rupiah juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada perdagangan Selasa.

Kurs JISDOR melemah 33 poin menjadi Rp17.998 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.965 per dolar AS.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026