HOME  ⁄  Ekonomi

Suahasil Nazara Tekankan Kredibilitas Fiskal, Warisan Kebijakan Frans Seda Dinilai Tetap Relevan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Suahasil Nazara Tekankan Kredibilitas Fiskal, Warisan Kebijakan Frans Seda Dinilai Tetap Relevan
Foto: Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan pidatonya pada Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis 1/10/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan kredibilitas fiskal menjadi fondasi penting yang harus terus dijaga agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN tetap sehat dan mampu menopang perekonomian ketika menghadapi gejolak.

Suahasil mengambil pembelajaran dari kebijakan Frans Seda saat menjabat Menteri Keuangan periode 1966–1968 ketika Indonesia menghadapi kondisi ekonomi yang sangat sulit.

Pada masa tersebut, Indonesia mengalami hiperinflasi sekitar 650 persen, cadangan devisa yang habis, ekspor tertahan, serta beban utang luar negeri yang sangat besar.

Kebijakan yang diterapkan Frans Seda disebut secara bertahap mampu menekan inflasi hingga sekitar 85 persen pada 1968.

"Apa yang sebenarnya beliau lakukan? Saya memahami yang sebenarnya beliau lakukan adalah mengembalikan kredibilitas fiskal di tengah turbulensi," kata Suahasil dalam Memorial Lecture di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Anggaran Berimbang dan Pengetatan Fiskal

Pada 1966, Frans Seda menerapkan konsep anggaran berimbang dengan menyesuaikan belanja negara terhadap kemampuan pemerintah mengumpulkan pendapatan melalui konsolidasi fiskal.

Suahasil menilai konsep yang diterapkan sekitar 60 tahun lalu tersebut masih relevan dalam pengelolaan fiskal saat ini.

Langkah yang dilakukan ketika itu antara lain restrukturisasi dan penekanan utang serta upaya membuat anggaran negara menjadi lebih berimbang.

Menurut Suahasil, belanja negara pada masa tersebut mencapai hampir atau sekitar tiga kali lipat dari penerimaan sehingga membutuhkan pengetatan anggaran.

"Di dalam episode-episode ini, relevansi kebijakan Pak Frans Seda selama dua tahun menjabat, beliau lakukan apa? Utang direstrukturisasi, ditekan. Anggaran itu harus cukup berimbang. Pada saat itu, belanja negara hampir atau sekitar tiga kali dari penerimaan. Bukan sesuatu yang sehat. Tapi ini yang lalu dilakukan, pengetatan," jelas Suahasil.

Ia juga menyoroti kebijakan sulit yang ditempuh Frans Seda, termasuk penyesuaian harga bahan bakar minyak atau BBM serta penertiban anggaran dan sektor perbankan.

Menurut Suahasil, disiplin belanja dan kredibilitas fiskal dapat memberikan ruang bagi APBN untuk menopang perekonomian ketika permintaan sedang melemah.

APBN Harus Siap Hadapi Gejolak Global

Suahasil mengatakan perjalanan ekonomi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perekonomian dunia sehingga pemerintah perlu memiliki kesiapan menghadapi dampak gejolak global.

Ia mencontohkan kebijakan pemerintah ketika pandemi COVID-19 dengan menempatkan APBN sebagai instrumen countercyclical untuk meredam tekanan ketika perekonomian melambat dan pendapatan negara menurun.

Pada saat bersamaan, APBN digunakan untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

"Harus berani mengambil respons yang luar biasa, namun kepercayaan dan disiplin fiskal harus dijaga dan secepat mungkin dipulihkan. Ini pembelajaran yang luar biasa, karena konsolidasi fiskal itu adalah alat, dia bukan tujuan. Tujuannya adalah kesehatan dari masyarakat kita karena APBN-nya sehat," kata Suahasil.

Suahasil turut mengaitkan pembelajaran tersebut dengan gejolak global akibat tensi di Selat Hormuz, peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat, arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang atau emerging market, serta kenaikan harga sejumlah komoditas dunia.

Pemerintah, menurut Suahasil, tetap menjaga harga energi bersubsidi yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, sedangkan harga energi nonsubsidi yang dikonsumsi masyarakat berpenghasilan lebih tinggi dapat mengikuti perkembangan harga global.

Ia menegaskan Indonesia tidak dapat menghindari gejolak global, tetapi pemerintah dapat melakukan persiapan dan mengambil langkah antisipasi dengan memastikan kondisi APBN tetap sehat.

"Mengapa itu dilakukan, tidak lain adalah karena di tengah dinamika global kita tidak bisa mengelak. Gejolak global itu kita tidak bisa mengelak. Tapi kita bisa bersiap dan berjaga-jaga. Berjaga-jaga adalah satu tindakan yang sangat diperlukan. Bagaimana cara berjaga-jaganya? Satu poin berjaga-jaga adalah APBN-nya mesti sehat," ujar Suahasil.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026