HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 1,02 Persen, Pasar Cermati Ketidakpastian Kebijakan Usai Reshuffle Kabinet

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Anjlok 1,02 Persen, Pasar Cermati Ketidakpastian Kebijakan Usai Reshuffle Kabinet
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 61,64 poin atau 1,02 persen ke posisi 6.009,50 pada perdagangan Kamis, 1 Oktober, ketika pelaku pasar mencermati perkembangan reshuffle Kabinet Merah Putih.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menilai perkembangan perombakan kabinet berpotensi memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemerintah ke depan.

“Dari sisi domestik, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan uncertainty terkait arah kebijakan pemerintah ke depan,” kata Nafan.

IHSG berada di zona merah sepanjang perdagangan setelah dibuka melemah dan bertahan di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, IHSG masih bergerak di zona merah hingga perdagangan berakhir.

Pasar Butuh Kejelasan Arah Kebijakan

Menurut Nafan, dampak reshuffle terhadap pasar keuangan dan saham bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk serta kontinuitas kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam jangka pendek, perubahan komposisi kabinet dinilai dapat meningkatkan volatilitas karena investor membutuhkan waktu untuk menilai kembali kebijakan pemerintah.

“Dalam jangka pendek, reshuffle kabinet dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi,” ungkap Nafan.

Dalam jangka menengah, perubahan kabinet dapat dipersepsikan lebih konstruktif apabila mampu memperkuat efektivitas pemerintahan, menjaga kesinambungan kebijakan, serta memberikan kepastian terhadap agenda reformasi dan investasi.

Menurut Nafan, pasar saat ini kemungkinan lebih membutuhkan kejelasan kebijakan atau policy clarity dibandingkan sekadar perubahan komposisi kabinet.

“Perkembangan reshuffle hari ini sendiri menunjukkan bahwa pasar langsung merespons perubahan tersebut, meskipun perlu dibedakan antara reaksi awal dan dampak fundamentalnya,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 1 Oktober, resmi melantik 18 pejabat negara dalam rangka reshuffle kabinet dan pelantikan pejabat baru.

Dari faktor eksternal, yield US Treasury yang relatif tinggi, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik turut menjadi perhatian investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang atau emerging market.

“Sikap investor saat ini menurut saya cenderung lebih defensif dan selektif,” ujar Nafan.

Investor masih melakukan rebalancing portofolio dengan mengurangi eksposur terhadap saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus modal asing sembari mencari saham atau sektor dengan fundamental kuat dan katalis lebih spesifik.

“Hal ini tercermin dari masih berlanjutnya net foreign sell dan tekanan pada sejumlah saham big caps,” ungkapnya.

Delapan Sektor Melemah, Teknologi Turun 3,68 Persen

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor energi menguat 0,53 persen, sektor keuangan naik 0,10 persen, dan sektor barang konsumen nonprimer bertambah 0,08 persen.

Sebanyak delapan sektor mengalami pelemahan dengan sektor teknologi mencatat penurunan terbesar sebesar 3,68 persen.

Sektor industri turun 1,80 persen, sedangkan sektor transportasi dan logistik melemah 1,74 persen.

Saham MGNA, AKKU, CCSI, ROCK, dan BLTZ mencatat penguatan harga terbesar, sedangkan SOSS, VERN, FORU, ALKA, dan BAUT mengalami pelemahan terbesar.

Frekuensi perdagangan mencapai 2,57 juta transaksi dengan 31,03 miliar saham diperdagangkan senilai Rp11,05 triliun.

Sebanyak 218 saham menguat, 470 saham melemah, dan 275 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Secara teknikal, Nafan memproyeksikan area 6.019 sebagai level support penting bagi IHSG, sedangkan support berikutnya berada di sekitar 5.854 apabila level tersebut tidak mampu dipertahankan.

Area 6.185–6.240 menjadi resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi terjadinya technical rebound.

“Selama IHSG masih mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang technical rebound tetap terbuka, terutama apabila tekanan jual asing mulai mereda dan kondisi rupiah maupun global market membaik. Namun, apabila support 6.019 ditembus secara signifikan, risiko berlanjutnya koreksi perlu diantisipasi,” kata Nafan.

Di bursa regional Asia, indeks Nikkei menguat 3,43 persen ke 69.046,00, Shanghai naik 0,31 persen ke 3.842,19, Hang Seng bertambah 0,37 persen ke 24.613,27, dan Kospi menguat 1,95 persen ke 6.971,35.

Sementara itu, indeks Straits Times melemah 0,10 persen ke posisi 5.669,95.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026