
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 84 poin atau 0,47 persen pada penutupan perdagangan Jumat menjadi Rp17.882 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi menurunnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data inflasi AS tercatat lebih rendah daripada perkiraan.
"Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," kata Ibrahim.
Dengan demikian, perkiraan pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turun dari 69 persen pada pekan sebelumnya menjadi sekitar 26 persen.
Data Inflasi AS Berada di Bawah Ekspektasi Pasar
Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) utama AS pada Agustus naik 3,4 persen secara tahunan atau year-on-year.
Kenaikan PCE utama tersebut berada di bawah perkiraan konsensus pasar sebesar 3,7 persen.
Sementara itu, indeks harga PCE inti AS yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang berfluktuasi tercatat naik 3 persen, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,3 persen.
PCE inti tersebut juga melambat dibandingkan posisi Juli yang tercatat sebesar 3,3 persen.
Secara bulanan, PCE inti AS naik 0,2 persen atau turun tipis 0,1 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi pasar sebesar 0,3 persen.
Pasar Mencermati Perkembangan Konflik AS-Iran
Selain perkembangan inflasi dan kebijakan moneter AS, pelaku pasar mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik tersebut disebut masih memanas seiring ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November setelah pemilihan umum paruh waktu AS.
Potensi meningkatnya konflik membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," ungkap Ibrahim.
Potensi gangguan pasokan energi global akibat eskalasi konflik dinilai dapat meningkatkan risiko inflasi sekaligus memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kurs JISDOR Turut Menguat
Penguatan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Kurs JISDOR pada Jumat berada di level Rp17.898 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.937 per dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya




