HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Menilai Masa Tanam Akhir 2026 Menjadi Kunci Menjaga Pasokan Pangan Awal 2027

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Menilai Masa Tanam Akhir 2026 Menjadi Kunci Menjaga Pasokan Pangan Awal 2027
Foto: (Sumber :Petani menarik alat penanam atau penyebar benih padi saat uji coba tanam benih langsung (tabela) di demplot pertanian Sidomuncul, Gondang, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (29/9/2026). . ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/YU.)

Pantau - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai keberhasilan masa tanam Oktober-Desember 2026 menjadi kunci menjaga kesinambungan pasokan pangan pada awal 2027 di tengah ancaman El Nino dan mundurnya musim hujan.

Keterlambatan hujan berpotensi menggeser jadwal tanam hingga panen yang seharusnya menopang pasokan pangan pada Februari-April 2027, bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

"Sebenarnya risiko terbesar saat ini bukan cuma produksi yang dipanen, tetapi keberhasilan tanam Oktober-Desember 2026 yang akan menentukan pasokan awal 2027 nanti," kata Eliza di Jakarta, Senin (5/10/2026).

El Nino Berisiko Menggeser Masa Panen

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Eliza mengatakan hasil panen saat ini berasal dari penanaman pada bulan-bulan sebelumnya sehingga perkembangan luas tanam hingga akhir tahun akan menentukan kesinambungan produksi pada awal 2027.

Jika jadwal tanam mundur atau terjadi gagal panen atau puso, panen yang seharusnya menjaga pasokan pada Februari-April 2027 berpotensi ikut bergeser.

"Yang dikhawatirkan selama Februari belum panen raya, tetapi permintaan tinggi. Ini yang perlu diantisipasi agar harga-harga pangan tidak melonjak ketika Ramadhan 2027," ujar dia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 Oktober mencatat indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) periode Juli-Agustus-September sebesar plus 2,70 yang menunjukkan El Nino berintensitas sangat kuat.

BMKG juga memprakirakan El Nino bertahan hingga awal 2027, sedangkan awal musim hujan di 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mundur dibandingkan kondisi normal.

Eliza mengingatkan kondisi serupa pernah terjadi saat El Nino 2023 yang menggeser masa tanam dan waktu panen pada tahun berikutnya.

BPS mencatat harga beras pada Maret 2024 meningkat 20,07 persen dibandingkan Maret 2023, sementara Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok harga bergejolak atau volatile food saat itu mencapai 10,33 persen secara tahunan.

"Kalau tidak dimitigasi, dampak El Nino bisa mempengaruhi pasokan dan mengerek harga. Ketika harga-harga melambung tinggi, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus," ucap Eliza.

Pemerintah Perkuat Pasokan dan Penanganan Kekeringan

Bank Indonesia mencatat inflasi volatile food pada September 2026 sebesar 5,03 persen secara tahunan, meningkat dari 4,06 persen pada Agustus.

Tekanan harga terutama berasal dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras akibat penurunan produksi di sejumlah sentra karena gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian pada 2026 menyiapkan 56 ribu unit pompa air untuk membantu lahan pertanian yang memiliki akses terhadap sumber air.

Kementerian Pekerjaan Umum hingga 24 September 2026 juga telah melakukan penanganan kekeringan di 3.288 lokasi, termasuk 358 lokasi persawahan dengan luas sekitar 141.440 hektare.

Penanganan tersebut dilakukan melalui pemompaan air, normalisasi saluran irigasi, pengaturan giliran air, dan pemasangan pipa.

Badan Pangan Nasional juga menambah penugasan kepada Perum Bulog untuk menyalurkan 74,18 ribu ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 20 November 2026.

Stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog tercatat mencapai 4,48 juta ton per 30 September 2026.

Eliza menilai pompanisasi dapat membantu petani mendapatkan akses air, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan sumber air.

"Pompanisasi membantu akses air, tetapi tidak menjamin airnya tersedia. Kalau sungai dan embung menyusut, pompa hanya memindahkan kelangkaan dan menambah biaya," ucapnya.

Eliza menyarankan kalender tanam disesuaikan dengan prakiraan cuaca BMKG serta penggunaan benih berumur pendek bagi wilayah yang terpaksa mengundurkan masa tanam.

Pengaturan waktu tanam secara bertahap antarsentra juga dinilai dapat mengurangi risiko sejumlah daerah mengalami keterlambatan panen secara bersamaan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026