
Pantau - Pemerintah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mendorong hilirisasi industri garam untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan daerah setelah produksi mencapai 119.311,24 ton sepanjang 2025.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas garam, memperluas akses pasar industri, serta meningkatkan pendapatan sekitar 3.000 keluarga petani yang menggantungkan penghidupan dari sektor pergaraman.
Dengan rata-rata tiga hingga empat anggota dalam setiap keluarga, kegiatan produksi garam di Kabupaten Bima berkaitan dengan kehidupan sekitar 9.000 hingga 12.000 jiwa.
Pemerintah daerah menilai besarnya produksi garam perlu diikuti pengembangan industri pengolahan agar nilai tambah komoditas tidak hanya dinikmati pihak di luar daerah penghasil.
Produksi Garam Bima Capai 119.311 Ton pada 2025
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bima, produksi garam daerah tersebut mengalami perubahan selama lima tahun terakhir.
Pada 2021, produksi garam tercatat mencapai 100.815 ton sebelum mengalami penurunan menjadi 77.739,68 ton pada 2022.
Produksi kemudian kembali meningkat menjadi 108.686,98 ton pada 2023 dan mencapai 130.186,32 ton pada 2024.
Sementara itu, produksi sepanjang 2025 tercatat sebesar 119.311,24 ton atau turun sekitar 8,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Garam tersebut dihasilkan dari lahan tambak seluas sekitar 1.564,59 hektare yang tersebar di lima kecamatan, yakni Palibelo, Woha, Bolo, Sape, dan Lambu.
Besarnya luas lahan dan volume produksi menjadikan sektor pergaraman sebagai salah satu sumber kegiatan ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Bima.
Namun, tingginya hasil produksi belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri.
Mayoritas Garam Bima Masih Berkualitas KW2 dan KW3
Kepala Kelembagaan dan Investasi DKP Kabupaten Bima, Irmalashari, mengungkapkan bahwa sebagian besar garam yang dihasilkan petani masih berada pada kategori kualitas KW2 dan KW3.
“Mayoritas masih KW 2 dan KW 3. Ada juga KW 1, tetapi biasanya di wilayah Nanga karena dekat dengan laut, hanya saja akses jalannya belum ada,” kata Irmalashari kepada ANTARA, Rabu (7/10/2026).
Menurut Irmalashari, wilayah Nanga memiliki potensi menghasilkan garam dengan kualitas lebih tinggi karena lokasinya berdekatan dengan laut.
Meski demikian, keterbatasan akses jalan menjadi salah satu kendala dalam pengembangan potensi produksi garam di kawasan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan industri garam tidak hanya membutuhkan peningkatan hasil panen, tetapi juga dukungan infrastruktur dan perbaikan mutu produksi.
Garam dengan kualitas lebih rendah memiliki keterbatasan dalam menjangkau pasar industri yang menerapkan persyaratan bahan baku tertentu.
Sebaliknya, peningkatan kualitas dapat membuka peluang pemasaran ke sektor industri yang membutuhkan garam dengan spesifikasi khusus.
Karena itu, peningkatan mutu sejak proses produksi di tambak menjadi salah satu kebutuhan dalam mendorong hilirisasi garam Kabupaten Bima.
Pemkab Bima Dorong Garam Lokal Masuk Pasar Industri
Wakil Bupati Bima, H Irfan Zubaidy, menegaskan bahwa peningkatan kualitas menjadi langkah penting untuk memperbaiki harga jual garam sekaligus memperluas peluang pasar bagi petani.
Pemerintah daerah ingin mendorong garam yang selama ini dipasarkan sebagai bahan mentah agar dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
"Kalau kita mau harga garam bagus, kita harus meng-upgrade garam menjadi garam industri. Bisa untuk pertambangan, kosmetik, makanan dan minuman. Ruangnya sangat banyak,” ujar Irfan saat meluncurkan merek garam konsumsi beryodium Garam Merah Putih Bima, Selasa (6/10/2026).
Irfan menyebut sejumlah sektor industri berpotensi menjadi pasar bagi garam Bima apabila kualitas produk dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan.
Sektor tersebut meliputi pertambangan, kosmetik, industri makanan, dan minuman yang menggunakan garam sebagai salah satu bahan baku.
Pengembangan pasar industri dinilai dapat memberikan alternatif pemasaran bagi petani sehingga penjualan tidak hanya bergantung pada garam mentah.
Selain memperluas pasar, pengolahan garam menjadi produk industri juga membuka peluang terciptanya nilai tambah ekonomi di Kabupaten Bima.
Garam Bima Sudah Dipasarkan ke Berbagai Wilayah Indonesia
Meskipun masih menghadapi tantangan kualitas, garam produksi Kabupaten Bima telah menjangkau berbagai wilayah pemasaran di Indonesia.
Komoditas tersebut dipasarkan ke Bali, Jawa, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Banjarmasin, Kabaena, Medan, hingga Jakarta.
Jangkauan distribusi tersebut menunjukkan bahwa garam Bima telah memiliki pasar di sejumlah daerah, baik di kawasan Indonesia bagian barat maupun timur.
Namun, sebagian nilai ekonomi dari kegiatan pengolahan garam masih berpotensi tercipta di luar wilayah produksi karena komoditas tersebut belum seluruhnya diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi di Bima.
Pemerintah Kabupaten Bima berupaya mengembangkan potensi tersebut melalui peningkatan kualitas dan penguatan pengolahan garam lokal.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah peluncuran merek garam konsumsi beryodium Garam Merah Putih Bima sebagai bagian dari pengembangan produk daerah.
Kehadiran produk tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas pemanfaatan garam lokal di luar penjualan hasil panen tambak.
Hilirisasi Garam Diharapkan Tingkatkan Pendapatan Petani
Pengembangan industri pengolahan garam menjadi perhatian pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.
Sekitar 3.000 keluarga petani yang terlibat dalam sektor pergaraman memiliki kepentingan terhadap peningkatan mutu, harga jual, dan kepastian pemasaran hasil produksi.
Dengan volume produksi lebih dari 119 ribu ton pada 2025, Kabupaten Bima memiliki pasokan bahan baku yang dapat menjadi modal untuk pengembangan industri pengolahan.
Namun, upaya tersebut masih memerlukan perbaikan kualitas, dukungan infrastruktur, dan penyesuaian produk dengan kebutuhan pasar industri.
Peningkatan mutu garam dari kategori KW2 dan KW3 menuju kualitas yang lebih tinggi menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pemanfaatan komoditas tersebut.
Pemerintah daerah berharap pengembangan industri garam dapat memperkuat posisi petani dalam rantai pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil tambak.
Melalui hilirisasi, Kabupaten Bima berupaya mengembangkan perannya dari daerah penghasil garam mentah menjadi wilayah yang mampu menghasilkan produk garam dengan nilai tambah lebih tinggi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




