
Pantau - Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) berkomitmen menjadi wadah yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan pemerintah, organisasi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat pengembangan usaha serta membuka peluang pasar nasional hingga global.
Ketua DPP Gekrafs Kawendra Lukistian mengatakan kolaborasi tersebut diperlukan untuk membantu pelaku ekonomi kreatif menghadapi berbagai tantangan usaha, terutama terkait permodalan, pemasaran, penguatan merek, dan sertifikasi.
“Kolaborasi tersebut dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha, mulai dari penguatan branding, akses permodalan, pemasaran, hingga fasilitasi sertifikasi,” kata Kawendra di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Gekrafs juga terus memperkuat konsolidasi organisasi melalui pembentukan dan penguatan kepengurusan di berbagai daerah hingga perwakilan luar negeri.
Gekrafs Perkuat Kepengurusan dan Kolaborasi Ekonomi Kreatif di Yogyakarta
Sebagai bagian dari penguatan organisasi, DPP Gekrafs telah melantik pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gekrafs Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Gekrafs Kampus DIY di Graha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, pada 2 Oktober 2026.
Kawendra menjelaskan pelantikan tersebut menjadi langkah untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui kerja sama antara pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan generasi muda.
Menurutnya, penguatan struktur organisasi harus diikuti dengan pelaksanaan program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku ekonomi kreatif.
Gekrafs DIY pun telah menyiapkan sejumlah agenda kolaborasi bersama pemerintah, organisasi, dan asosiasi lainnya sepanjang Oktober hingga November 2026.
Salah satu kegiatan yang melibatkan Gekrafs adalah Jogja Cultural Festival yang rangkaian acaranya berlangsung hingga November mendatang.
Selain itu, Gekrafs dijadwalkan berpartisipasi dalam kegiatan Meet the Investor pada 21–22 Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian GIVE UGM.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan Collaboration Class dan gelar wicara yang membahas pengembangan ekonomi kreatif serta peluang kolaborasi bagi pelaku usaha.
Pelaku UMKM Masih Menghadapi Kendala Permodalan dan Penguatan Merek
Kawendra menilai Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif karena banyaknya ide dan inovasi yang dihasilkan pelaku usaha lokal.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam mengubah gagasan kreatif menjadi produk dan bisnis yang mampu berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah memiliki ide kreatif yang beragam, tetapi belum sepenuhnya memperhatikan aspek pengembangan bisnis.
“Tapi dalam eksekusinya masalah permodalan, kemudian juga masalah mungkin bahkan di branding dan lainnya mereka belum belum fokus ke arah sana,” ungkap Kawendra.
Karena itu, Gekrafs berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan pihak yang dapat membantu menjawab kebutuhan pengembangan bisnis mereka.
Penguatan DPW Gekrafs DIY dan kehadiran Gekrafs Kampus DIY juga diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam pengembangan industri kreatif daerah.
“Sekaligus membuka peluang agar karya kreatif daerah dapat berkembang ke pasar nasional hingga global,” kata Kawendra.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Minta Gekrafs Berikan Manfaat Nyata
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menekankan pentingnya peran Gekrafs sebagai organisasi yang benar-benar memberikan dampak bagi pelaku ekonomi kreatif.
Wawan berharap kepengurusan Gekrafs yang baru tidak hanya berfokus pada pembentukan struktur organisasi maupun penyelenggaraan kegiatan seremonial.
“Saya tidak ingin Gekrafs hanya hadir sebagai sebuah organisasi yang memiliki struktur kepengurusan dan menjalankan hanya kegiatan seremonial. Tetapi saya juga ingin Gekrafs benar-benar hadir dan memberikan manfaat bagi para pelaku ekonomi kreatif,” tegas Wawan.
Melalui penguatan kepengurusan dan berbagai agenda kolaborasi tersebut, Gekrafs diharapkan menjadi rumah bersama bagi pelaku ekonomi kreatif sekaligus memperluas akses terhadap peluang usaha, investasi, dan pemasaran produk daerah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




