
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026), mengikuti penurunan bursa saham Asia dan global di tengah kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.
IHSG yang sempat dibuka menguat berbalik turun 20,42 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.126,30 pada pukul 09.48 WIB.
Sementara itu, indeks 45 saham unggulan atau LQ45 melemah 0,37 poin atau 0,06 persen menjadi 605,35.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan terbatas sepanjang perdagangan.
"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.270,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Kebijakan Suku Bunga The Fed Tekan Sentimen Pasar
Dari pasar global, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan suku bunga pada 2026.
Kebijakan tersebut dipertimbangkan untuk mengendalikan inflasi Amerika Serikat yang masih berada di atas target 2 persen.
Sebanyak 16 dari 18 pejabat FOMC memproyeksikan kenaikan suku bunga lanjutan, meskipun keputusan akhir tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi AS.
Nico menilai arah kebijakan moneter The Fed masih cenderung ketat atau hawkish, walaupun peluang kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 dinilai relatif terbatas.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih solid memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Menurut Nico, situasi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield dan nilai tukar dolar AS tetap tinggi.
Tekanan tersebut dapat memengaruhi aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang dan nilai tukar rupiah.
“Namun, apabila inflasi terus melandai tanpa pelemahan signifikan pada ekonomi AS, The Fed berpeluang menunda kenaikan hingga Desember 2026, yang dapat memberikan ruang bagi sentimen pasar untuk membaik,” ujar Nico.
Cadangan Devisa Indonesia Turun ke 146,3 Miliar Dolar AS
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Jumlah tersebut turun tipis dibandingkan posisi Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS.
Jika dibandingkan dengan akhir 2025 yang mencapai 156,47 miliar dolar AS, cadangan devisa Indonesia telah berkurang sekitar 10,17 miliar dolar AS.
Penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun, penurunan cadangan devisa tertahan oleh penarikan pinjaman luar negeri serta penerimaan pajak dan jasa.
Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Jumlah itu masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berkisar tiga bulan impor.
Cadangan Devisa Dinilai Masih Mendukung Stabilitas Rupiah
Nico menilai cadangan devisa sebesar 146,3 miliar dolar AS menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih relatif kuat.
Meski demikian, penurunan sekitar 10,2 miliar dolar AS sejak awal 2026 menjadi perhatian karena menunjukkan adanya tekanan dari kebutuhan pembayaran utang dan stabilisasi rupiah.
Menurutnya, cadangan devisa yang masih mencukupi dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagi pasar modal, kondisi tersebut dinilai memberikan sentimen netral hingga positif karena dapat mempertahankan kepercayaan investor.
"Ke depan, arus modal asing dan perkembangan neraca perdagangan akan menjadi kunci untuk menjaga cadangan devisa sekaligus mengurangi tekanan terhadap rupiah," ujar Nico.
Bursa Wall Street dan Eropa Kompak Melemah
Pelemahan IHSG juga berlangsung ketika sejumlah indeks saham utama dunia mencatat penurunan pada perdagangan sebelumnya.
Bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup melemah pada Rabu (7/10/2026), dengan pergerakan sebagai berikut:
- Indeks S&P 500 turun 0,22 persen ke level 7.801,77.
- Indeks Nasdaq Composite turun 0,22 persen ke level 27.538,69.
- Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,66 persen ke level 51.179,87.
- Sementara itu, sejumlah indeks saham utama Eropa juga ditutup di zona merah.
- Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,40 persen.
- Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,79 persen.
- Indeks DAX Jerman turun 1,35 persen.
- Indeks CAC 40 Prancis turun 1,22 persen.
Bursa Asia Turun, IHSG Diperkirakan Bergerak Terbatas
Pada perdagangan Kamis pagi, mayoritas bursa saham regional Asia juga mengalami pelemahan.
Pergerakan sejumlah indeks saham Asia tercatat sebagai berikut:
- Indeks Nikkei Jepang turun 0,70 persen ke level 69.548,00.
- Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,45 persen ke level 24.022,50.
- Indeks Shanghai China turun 0,10 persen ke level 3.838,44.
- Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,76 persen ke level 6.752,44.
- Indeks Straits Times Singapura turun 2,56 persen ke level 5.464,85.
Di tengah pelemahan bursa regional dan global, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level penopang (support) 6.000 dan level hambatan (resistance) 6.270.
Pergerakan IHSG selanjutnya diperkirakan turut dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter The Fed, arus modal asing, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




