HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 1,88 Persen ke Level 6.031,28, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Konflik Timur Tengah Tekan Bursa Asia

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Anjlok 1,88 Persen ke Level 6.031,28, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Konflik Timur Tengah Tekan Bursa Asia
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 115,44 poin atau 1,88 persen ke level 6.031,28 pada perdagangan Kamis (8/10/2026), seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) hingga akhir 2026.

Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan, dengan penurunan 12,08 poin atau 1,99 persen ke posisi 593,64.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, mengatakan tekanan terhadap IHSG dan bursa regional Asia dipengaruhi risalah rapat The Fed yang menunjukkan kecenderungan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau hawkish.

"IHSG dan Bursa regional Asia melemah, pasar tampaknya dipengaruhi risalah The Fed menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada 2026 untuk menjaga inflasi yang masih berada di atas target 2 persen,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

The Fed Berpotensi Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Perbesar Tekanan Pasar

Nico menjelaskan sebagian besar pembuat kebijakan The Fed masih melihat kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga pada akhir 2026, sebagaimana tercantum dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.

Meski demikian, pejabat The Fed menegaskan keputusan kebijakan moneter berikutnya tetap mempertimbangkan perkembangan data ekonomi terbaru, prospek pertumbuhan ekonomi, serta keseimbangan risiko global.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa periode suku bunga tinggi berpotensi berlanjut sepanjang 2026 karena The Fed masih mewaspadai tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Selain kebijakan moneter Amerika Serikat, pelaku pasar turut mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi.

"Kondisi tersebut tentunya menambah volatilitas pasar,” ujar Nico.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan di tengah kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait keamanan jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran yang berpotensi dilaksanakan sebelum pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat.

Risiko gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian meskipun arus pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan telah kembali mencapai tingkat sebelum perang.

"Ini bertentangan dengan harapan umum bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran menjelang pemilihan November 2026,” ujar Nico.

IHSG Tertekan Sepanjang Perdagangan, Sektor Energi Anjlok 2,76 Persen

Dari sisi pergerakan perdagangan, IHSG langsung dibuka melemah pada sesi pertama dan terus bergerak di zona merah hingga jeda perdagangan siang.

Memasuki sesi kedua, indeks belum mampu berbalik menguat dan tetap berada di wilayah negatif hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak sembilan sektor mengalami pelemahan, dengan sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76 persen.

Tekanan berikutnya terjadi pada sektor infrastruktur yang melemah 2,70 persen, disusul sektor industri yang terkoreksi 2,27 persen.

Sementara itu, laporan perdagangan mencatat dua sektor mengalami penguatan masing-masing sebesar 1,15 persen dan 0,56 persen, tetapi terdapat pengulangan nama sektor kesehatan sehingga identitas sektor kedua belum dapat dipastikan.

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan terbesar, yakni ARII, PEVE, SAFE, MCAS, dan BLTA.

Sebaliknya, saham SEMA, TRIN, WMUU, ENAK, dan MBSS menjadi kelompok saham yang mengalami penurunan harga terbesar sepanjang perdagangan.

Aktivitas perdagangan saham di BEI mencatat frekuensi transaksi sebanyak 1,93 juta kali dengan volume mencapai 57,24 miliar lembar saham.

Total nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp12,60 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 187 saham mengalami kenaikan harga, 518 saham melemah, sedangkan 258 saham tidak mengalami perubahan harga.

Bursa Asia Kompak Melemah, Indeks Singapura Turun Paling Dalam

Tekanan jual tidak hanya melanda pasar saham Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah bursa utama kawasan Asia seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek suku bunga Amerika Serikat dan risiko geopolitik global.

Indeks Nikkei Jepang tercatat melemah 1,13 persen ke posisi 69.244,00, sedangkan indeks Shanghai China turun 0,79 persen ke level 3.811,90.

Indeks Kospi Korea Selatan juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 2,62 persen ke posisi 6.625,93.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,43 persen ke level 23.785,79.

Pelemahan terdalam di antara sejumlah indeks regional tersebut terjadi pada indeks Straits Times Singapura yang turun 3,46 persen ke posisi 5.414,17.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG dan bursa saham Asia terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi The Fed, tekanan inflasi global, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan harga minyak dunia, dan situasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi volatilitas pasar saham pada perdagangan berikutnya.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026