
Pantau - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa selisih imbal hasil atau spread obligasi Indonesia terhadap obligasi Amerika Serikat berhasil ditekan hingga 188 basis poin atau 1,88 poin persentase berdasarkan data per 7 Oktober 2026, yang dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi makro nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Suahasil dalam agenda Investor Daily Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Suahasil, penurunan spread menunjukkan bahwa Indonesia kini tidak perlu lagi menawarkan tambahan imbal hasil sebesar periode sebelumnya untuk menarik minat investor global.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, Indonesia harus menawarkan tambahan imbal hasil hingga 400 sampai 500 basis poin atau setara dengan empat hingga lima poin persentase di atas obligasi Amerika Serikat.
Namun, berdasarkan data terbaru per 7 Oktober 2026, tambahan imbal hasil tersebut telah menurun menjadi 188 basis poin.
"Kita bersyukur bahwa selisih suku bunga yang harus kita tawarkan supaya Indonesia itu tetap menarik, tetap ekstraktif, makin hari makin kecil. Dulu harus kita berikan baru ekstraktif kalau dikasih 400 basis points, 500 basis points. Terakhir, ini adalah angka 7 Oktober, kita cukup memberikan 188 basis points. Ini adalah basis dari fundamental kepercayaan kepada pengelolaan ekonomi makro Indonesia," ujar Suahasil.
Suahasil menilai perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya fundamental kepercayaan investor terhadap kebijakan dan pengelolaan perekonomian Indonesia.
Imbal Hasil Obligasi Amerika Serikat Capai 5,28 Persen
Dalam kesempatan tersebut, Suahasil turut menyoroti tingginya tingkat imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan modal internasional.
Ia menyebutkan bahwa imbal hasil obligasi Amerika Serikat berada pada level 5,28 persen, yang menurut paparannya merupakan tingkat tertinggi dalam 23 tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat instrumen investasi Amerika Serikat memiliki daya tarik bagi investor global karena menawarkan tingkat pengembalian yang relatif tinggi.
Tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat juga dapat mendorong perpindahan modal internasional kembali ke negara tersebut.
Situasi itu berpotensi memberikan tekanan terhadap arus investasi yang masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Suahasil menjelaskan bahwa pemerintah perlu menawarkan tambahan premi imbal hasil agar investor tetap tertarik menempatkan dananya pada instrumen obligasi Indonesia.
"Supaya menahan modal itu ada di Indonesia tetap, maka harusnya Indonesia memberikan ekstra premium bunga," kata Suahasil.
Tambahan premi tersebut merupakan kompensasi yang diberikan kepada investor atas penempatan dana pada obligasi Indonesia dibandingkan dengan instrumen obligasi Amerika Serikat.
Namun, Suahasil menekankan bahwa kebutuhan tambahan premi Indonesia saat ini telah jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Spread Obligasi Indonesia Pernah Mencapai 1.000 Basis Poin pada 2003
Suahasil kemudian membandingkan kondisi spread obligasi Indonesia saat ini dengan perkembangan pada awal dekade 2000-an.
Menurutnya, pada 2003 Indonesia pernah harus menawarkan tambahan imbal hasil hingga 1.000 basis poin atau setara dengan 10 poin persentase di atas obligasi Amerika Serikat.
Tingginya selisih tersebut menunjukkan bahwa Indonesia pada periode itu membutuhkan premi imbal hasil yang jauh lebih besar untuk menarik investor global.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, apabila tingkat bunga obligasi Amerika Serikat berada pada angka empat persen, Indonesia harus menawarkan bunga hingga 12 persen.
Selisih dalam ilustrasi tersebut secara matematis mencapai delapan poin persentase atau 800 basis poin, sedangkan angka spread yang disebutkan untuk 2003 mencapai 1.000 basis poin.
Selain membahas kondisi pada 2003, Suahasil juga menyinggung dampak krisis keuangan global pada 2009 terhadap perkembangan imbal hasil obligasi Indonesia.
Krisis tersebut menyebabkan lonjakan spread obligasi sehingga pemerintah harus menghadapi biaya bunga yang lebih tinggi untuk memperoleh pembiayaan.
Kenaikan biaya bunga turut memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena pemerintah harus menyediakan dana lebih besar untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga utang.
Seiring dengan penguatan fundamental ekonomi makro, tambahan imbal hasil yang diperlukan Indonesia untuk menarik investor disebut terus mengalami penurunan.
Spread Indonesia Lebih Rendah Dibandingkan India hingga Brasil
Suahasil menyampaikan bahwa posisi spread obligasi Indonesia saat ini juga lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara berkembang lainnya.
Negara-negara yang menjadi pembanding meliputi India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil.
Menurutnya, spread Indonesia sebesar 188 basis poin menunjukkan bahwa pemerintah mampu mempertahankan daya tarik investasi dengan tambahan premi imbal hasil yang lebih kecil.
Kondisi tersebut dinilai membantu Indonesia menjaga arus masuk modal asing atau capital inflow di tengah persaingan investasi global.
"Dengan kita punya spread yang lebih kecil, kita telah mampu menjaga capital inflow saat ini. Kalau kita bandingkan pada hari ini Indonesia adalah 188 basis points, kita bisa bandingkan dengan India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, Brasil yang lebih tinggi dari kita," ujar Suahasil.
Perbandingan tersebut digunakan Suahasil untuk menjelaskan posisi Indonesia dalam persaingan menarik modal internasional ketika pasar keuangan global masih dipengaruhi tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Dengan tambahan premi yang lebih rendah, Indonesia dinilai tetap mampu mempertahankan minat investor tanpa harus menawarkan selisih bunga sebesar periode sebelumnya.
Penurunan Spread Obligasi Dinilai Perkuat Kepercayaan Investor
Suahasil menegaskan bahwa penurunan spread obligasi menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi makro Indonesia.
Menurutnya, kepercayaan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga daya tarik instrumen investasi nasional sekaligus mendukung keberlanjutan arus modal masuk.
Semakin kecilnya tambahan imbal hasil yang diperlukan pemerintah juga menunjukkan perubahan kondisi pembiayaan dibandingkan dengan periode ketika Indonesia harus menawarkan premi bunga jauh lebih tinggi.
Suahasil menilai bahwa penguatan fundamental ekonomi makro menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan investor terhadap kondisi perekonomian nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa kepercayaan tersebut harus terus dijaga melalui pengelolaan ekonomi yang kredibel dan konsisten.
Menkeu Tekankan Kredibilitas dan Transparansi Pengelolaan APBN
Suahasil menekankan bahwa kredibilitas pemerintah menjadi faktor utama dalam mempertahankan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Menurutnya, kredibilitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian indikator ekonomi, tetapi juga dengan transparansi pengelolaan keuangan negara dan komunikasi kebijakan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pemerintah juga harus mampu menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dan penggunaan APBN memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta perekonomian nasional.
"Kuncinya adalah kredibilitas. Tidak bisa kita mengelola perekonomian tanpa kredibilitas yang baik. Kredibilitas berarti transparansi, komunikasi terus dilakukan, dan kita harus terus menunjukkan bahwa APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) yang kita kelola adalah APBN yang memang bermanfaat," kata Suahasil.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan APBN yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Komunikasi yang konsisten juga diperlukan agar investor dapat memahami arah kebijakan ekonomi serta langkah-langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian.
Dengan spread obligasi yang mencapai 188 basis poin per 7 Oktober 2026, pemerintah menilai Indonesia berada dalam kondisi yang lebih baik untuk mempertahankan daya tarik investasi dibandingkan dengan periode ketika tambahan premi imbal hasil masih jauh lebih tinggi.
Suahasil menekankan bahwa penguatan fundamental ekonomi makro, kredibilitas pengelolaan ekonomi, transparansi, dan pemanfaatan APBN yang tepat menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor serta mendukung keberlanjutan arus modal masuk ke Indonesia.
- Penulis :
- Leon Weldrick




