HOME  ⁄  Ekonomi

IPB University dan WUR Siapkan Konsorsium Gambut untuk Dorong Ekonomi Sirkular

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IPB University dan WUR Siapkan Konsorsium Gambut untuk Dorong Ekonomi Sirkular
Foto: (Sumber :Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (CTSS) dan Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University IPB University melakukan pembahasan terkait Konsorsium Sirkularitas Lahan Gambut (PCC) di Kampus IPB Dramaga Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ANTARA/HO-IPB University.)

Pantau - Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (CTSS) bersama Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University menjalin kerja sama dengan Wageningen University and Research (WUR) Belanda untuk mempersiapkan pembentukan Konsorsium Sirkularitas Lahan Gambut (Peatland Circularity Consortium/PCC).

Pembahasan tersebut dilakukan melalui dialog hibrida di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai bagian dari Program Diaspora Berdampak yang menghadirkan akademisi Indonesia dari WUR, Dr Aritta Suwarno.

Kepala CTSS IPB University, Prof Husin Alatas, mengatakan bahwa pengelolaan lahan gambut memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikembangkan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

"Gambut selama ini kerap dibicarakan dari sisi negatif karena kebakaran hutan, namun pada dasarnya gambut justru dapat membawa berkah melalui ekonomi sirkular," kata Husin di Bogor, Jumat (9/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Departemen Silvikultur dan CTSS IPB University juga menandatangani surat pernyataan kehendak atau letter of intent (LoI) dengan WUR sebagai bagian dari penguatan kerja sama.

Konsorsium Gambut Diharapkan Hubungkan Peneliti hingga Pelaku Usaha

Husin menjelaskan bahwa PCC dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk menghubungkan berbagai organisasi dan inisiatif yang selama ini bergerak dalam pengelolaan ekosistem gambut.

"Melalui dialog ini, para pihak diharapkan dapat merumuskan PCC. Bukan sebagai entitas baru, PCC diposisikan sebagai platform kolaborasi yang menjembatani organisasi dan inisiatif gambut yang telah ada," katanya.

Konsorsium tersebut diharapkan mampu mempertemukan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, organisasi nonpemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diarahkan untuk mengembangkan pengelolaan gambut yang bersifat sirkular, regeneratif, serta memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Chief of Fellow CTSS IPB University, Prof Damayanti Buchori, menilai bahwa berbagai penelitian mengenai gambut telah banyak dilakukan, tetapi penerapannya di lapangan masih perlu ditingkatkan.

"PCC itu memang diharapkan untuk bisa menjadi implementor dari riset-riset yang sudah ada, tapi juga menjadi katalisator untuk mempercepat proses-proses restorasi, regeneratif, dan sebagainya," ujarnya.

Damayanti juga menekankan pentingnya pendekatan transdisiplin karena persoalan pengelolaan gambut melibatkan berbagai aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Selain itu, ia menyoroti perlunya pendanaan alternatif, model bisnis yang jelas bagi industri, serta pengintegrasian pengetahuan masyarakat lokal dalam pengelolaan lahan gambut.

Pakar Tekankan Tata Kelola Air sebagai Dasar Pengelolaan Gambut

Ketua CIMTROP Universitas Palangka Raya, Prof Adi Jaya, menegaskan bahwa pengelolaan tata air menjadi fondasi utama dalam pengembangan ekonomi sirkular di kawasan gambut.

Menurutnya, meskipun karakteristik lahan gambut berbeda di setiap wilayah, prinsip pengelolaan hidrologi tetap menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

Pengembangan kegiatan ekonomi di lahan gambut perlu diawali dengan perencanaan tata kelola air yang disesuaikan dengan kondisi ekosistem setempat.

"Dengan hidrologi sebagai fondasi, berbagai pilihan pemanfaatan ekonomi dapat dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi ekologis gambut," tuturnya.

Sementara itu, pakar gambut IPB University, Prof Dr Suria Tarigan, menyoroti hubungan antara karakteristik gambut, kondisi hidrologi, dan pemilihan komoditas pertanian.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan basah dapat membantu mengurangi kebutuhan drainase berlebihan yang berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem gambut.

Pemilihan komoditas yang tepat menjadi salah satu aspek penting dalam mengembangkan kegiatan ekonomi tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Industri Sagu Dinilai Berpotensi Dukung Ekonomi Sirkular Gambut

Dari sektor industri, Direktur Utama PT Bangka Asindo Agri, Fidrianto, membagikan pengalaman perusahaan dalam mengembangkan industri sagu berbasis ekonomi sirkular.

Pengembangan tersebut menggunakan pendekatan zero waste atau tanpa limbah untuk memaksimalkan pemanfaatan hasil produksi.

Sagu dinilai memiliki potensi sebagai komoditas yang dapat menghubungkan aktivitas ekonomi masyarakat dengan pengelolaan lanskap gambut secara berkelanjutan.

Karakteristik tanaman sagu yang mampu tumbuh pada kondisi lahan basah menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan komoditas tersebut.

Sementara itu, Dr Aritta Suwarno dari Wageningen University and Research Belanda menekankan pentingnya menciptakan nilai ekonomi jangka panjang dari pemanfaatan gambut.

Menurutnya, pengembangan nilai ekonomi gambut perlu tetap memperhatikan penguatan fungsi ekologis agar kegiatan usaha dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

Melalui persiapan PCC, IPB University dan WUR berupaya memperkuat kerja sama penelitian serta mendorong penerapan hasil riset dalam pengelolaan gambut yang berkelanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026