
Pantau - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mulai menguji coba program pelatihan kerja dengan skema hibrida yang menggabungkan pembelajaran di balai pelatihan pemerintah dan praktik langsung di perusahaan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan program tersebut bertujuan mengurangi kesenjangan keterampilan antara lulusan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Uji coba pelatihan saat ini berlangsung di Sumatera Selatan dengan melibatkan sejumlah perusahaan besar, termasuk PT Bukit Asam, Pusri Palembang, dan Pertamina.
“ Saat ini, uji coba (skema hibrida) sedang berjalan di Sumatera Selatan dengan melibatkan beberapa industri besar seperti Bukit Asam, Pusri Palembang, dan Pertamina,” ujar Menaker dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Peserta Jalani Pelatihan Intensif Selama Satu hingga Dua Bulan
Dalam skema pelatihan hibrida, peserta terlebih dahulu mengikuti pembelajaran intensif selama satu hingga dua bulan di balai pelatihan milik pemerintah.
Setelah menyelesaikan tahap pembelajaran, peserta melanjutkan kegiatan dengan menjalani praktik kerja langsung di perusahaan yang terlibat dalam program.
Pola pelatihan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teori, tetapi juga pengalaman menghadapi kebutuhan dan proses kerja di lingkungan industri.
Yassierli menjelaskan bahwa pengembangan program membutuhkan dukungan ekosistem pelatihan yang terintegrasi.
Menurutnya, keterlibatan perusahaan, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi diperlukan untuk memastikan kompetensi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Kemnaker menanggung seluruh biaya pelatihan sehingga peserta tidak perlu membayar untuk mengikuti program tersebut.
Selain mendapatkan pembelajaran dan pengalaman praktik kerja, peserta juga memperoleh sertifikat kompetensi secara gratis.
Kemnaker Soroti Peluang Kerja Teknisi Pendingin
Selain mengembangkan skema pelatihan hibrida, Kemnaker menyoroti peluang kerja di bidang teknik pemanasan, ventilasi, pendingin udara, dan refrigerasi atau Heating, Ventilating, Air Conditioning, and Refrigerating (HVACR).
Yassierli menilai bidang tersebut memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru seiring meningkatnya kebutuhan perangkat pendingin.
“Seiring iklim global yang makin panas, kebutuhan masyarakat dan industri terhadap perangkat pendingin ikut meningkat,” kata Menaker.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan tersebut membuka peluang penyerapan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus di bidang sistem pendingin.
Industri membutuhkan teknisi yang mampu merakit dan memasang perangkat pendingin dengan tingkat ketelitian tinggi.
Keterampilan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kebocoran pada sistem pendingin sekaligus menekan emisi gas yang berdampak terhadap lingkungan.
Karena itu, peningkatan kompetensi teknisi menjadi salah satu kebutuhan dalam mendukung perkembangan industri dan perlindungan lingkungan.
Kemnaker Miliki 34 Balai Pelatihan Vokasi di Indonesia
Untuk mendukung peningkatan keterampilan tenaga kerja, Kemnaker memiliki 34 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Seluruh balai pelatihan tersebut didukung oleh 1.627 instruktur kompeten yang bertugas menyelenggarakan program peningkatan keterampilan.
Fasilitas dan tenaga pengajar tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan sektor industri.
Melalui pelatihan yang terhubung langsung dengan perusahaan, peserta diharapkan dapat memperoleh keterampilan yang relevan dengan pekerjaan yang tersedia.
Program uji coba di Sumatera Selatan menjadi salah satu langkah Kemnaker dalam mengembangkan sistem pelatihan vokasi yang menghubungkan proses pembelajaran dengan praktik kerja di industri.
- Penulis :
- Aditya Yohan




