HOME  ⁄  Ekonomi

Akademisi Unisa Yogyakarta Ingatkan Pencegahan Stunting Tak Cukup Lewat Edukasi, Keluarga Harus Mampu Sediakan Pangan Bergizi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Akademisi Unisa Yogyakarta Ingatkan Pencegahan Stunting Tak Cukup Lewat Edukasi, Keluarga Harus Mampu Sediakan Pangan Bergizi
Foto: (Sumber :Program TANGKAS GIZI atau "Tangguh Atasi Stunting dan Advokasi Kesehatan Gizi" oleh kader PKK Padukuhan Gentingan, Kalurahan Sidoagung, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/HO-Humas Unisa Yogyakarta..)

Pantau - Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Erni Saharuddin, menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan edukasi gizi, tetapi harus disertai pemberdayaan keluarga agar mampu menyediakan makanan bergizi secara mandiri dan berkelanjutan.

"Penguatan kemampuan keluarga menyediakan pangan bergizi secara mandiri dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun pencegahan stunting yang lebih berkelanjutan," kata Erni di Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Menurut Erni, kemampuan masyarakat dalam memproduksi dan mengolah bahan pangan bergizi di tingkat rumah tangga menjadi faktor penting untuk memastikan upaya pencegahan stunting dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai penyuluhan mengenai pentingnya asupan gizi perlu diikuti langkah nyata yang membantu keluarga memperoleh dan mengolah makanan sehat sesuai kemampuan masing-masing.

Angka Stunting Nasional Masih 19,8 Persen, Pemerintah Targetkan Turun pada 2029

Erni mengungkapkan bahwa prevalensi stunting nasional berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 masih berada pada angka 19,8 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.

Berdasarkan perkiraan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 4,4 juta balita di Indonesia masih mengalami stunting pada 2024.

Sementara itu, pemerintah menargetkan prevalensi stunting nasional dapat ditekan hingga 14,2 persen pada 2029.

Menurut Erni, pencapaian target tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan upaya terpadu dan berkelanjutan, bukan sekadar peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai gizi.

Ia menjelaskan bahwa stunting merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor sejak masa kehamilan hingga periode pertumbuhan anak.

Faktor tersebut meliputi kualitas asupan gizi ibu dan anak, pola pengasuhan, kondisi kesehatan lingkungan, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, serta kemampuan ekonomi keluarga dalam memperoleh makanan bergizi.

Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi memerlukan keterlibatan berbagai pihak dalam memperbaiki kondisi keluarga dan lingkungan.

Pemberdayaan Keluarga Jadi Kunci Pencegahan Stunting Berkelanjutan

Erni menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan stunting, terutama untuk meningkatkan kemandirian keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mendapatkan informasi mengenai makanan sehat, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut secara langsung.

Penguatan keterampilan mengolah dan memproduksi bahan pangan di tingkat rumah tangga dinilai dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak secara lebih berkelanjutan.

Selain ketersediaan pangan, pencegahan stunting juga membutuhkan perhatian terhadap pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, makanan pendamping ASI (MPASI), serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

Akses terhadap air minum yang aman, fasilitas sanitasi layak, dan pelayanan kesehatan yang memadai turut menjadi faktor penting dalam menekan risiko stunting.

Pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting juga diperlukan agar permasalahan gizi dapat dikenali dan ditangani sejak dini.

Erni menilai pendekatan yang hanya berfokus pada penyuluhan berisiko belum memberikan hasil optimal apabila keluarga masih menghadapi kesulitan dalam menyediakan makanan bergizi.

Karena itu, program pencegahan stunting perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan keluarga untuk menerapkan pengetahuan gizi melalui pemanfaatan sumber pangan yang tersedia.

Pencegahan Stunting Perlu Melibatkan Berbagai Sektor

Penanganan stunting memerlukan kerja sama antara sektor kesehatan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta masyarakat untuk memastikan keluarga memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Upaya tersebut mencakup perbaikan pola konsumsi, peningkatan kualitas pengasuhan anak, pemantauan kesehatan ibu dan balita, serta penyediaan lingkungan tempat tinggal yang sehat.

Erni menegaskan bahwa pencegahan stunting seharusnya tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, melainkan harus mendorong masyarakat agar mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan kemandirian pangan keluarga menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk mendukung pencapaian target penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 14,2 persen pada 2029.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026