HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Nilai Tukar

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Nilai Tukar
Foto: Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis 23/4/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.913 per dolar AS pada perdagangan Senin (12/10), di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan tersebut terjadi dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp17.899 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

"Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut," kata Ibrahim Assuabi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Menurut Ibrahim, sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan mata uang, termasuk rupiah.

Pejabat The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga untuk Tekan Inflasi

Ibrahim menjelaskan bahwa sejumlah pejabat The Fed memberikan pernyataan mengenai kemungkinan perlunya pengetatan kebijakan moneter tambahan untuk mengendalikan inflasi Amerika Serikat.

Salah satunya adalah Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, yang menyampaikan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut diperlukan untuk membantu mengembalikan inflasi menuju target bank sentral sebesar 2 persen.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi masih menjadi perhatian utama dalam pertimbangan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Selain Musalem, Gubernur The Fed Christopher Waller juga memberikan sinyal mengenai kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga tambahan.

Waller mengindikasikan bahwa penyesuaian suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan apabila perkembangan data ekonomi Amerika Serikat secara umum tetap sesuai dengan perkiraan.

Menurut Ibrahim, pernyataan kedua pejabat tersebut menjadi bagian dari sentimen eksternal yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi dolar AS sehingga berpotensi menekan mata uang negara lain.

Meski demikian, pernyataan para pejabat The Fed tersebut masih berupa sinyal mengenai kemungkinan arah kebijakan moneter dan belum merupakan keputusan resmi untuk menaikkan suku bunga.

Pasar Tunggu Data Inflasi dan Penjualan Ritel Amerika Serikat

Ibrahim mengatakan pelaku pasar pada pekan ini akan mencermati sejumlah indikator ekonomi penting Amerika Serikat untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan inflasi dan prospek kebijakan suku bunga The Fed.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah data inflasi tingkat konsumen yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.

Selain itu, pasar akan memantau data inflasi tingkat produsen untuk mengetahui perkembangan tekanan harga pada tingkat produksi.

Kedua indikator tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai perkembangan inflasi dalam perekonomian Amerika Serikat.

Setelah publikasi data inflasi konsumen dan produsen, perhatian pasar juga akan tertuju pada data penjualan ritel yang mencerminkan aktivitas konsumsi masyarakat.

Pernyataan lanjutan sejumlah pejabat The Fed turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.

"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," ujar Ibrahim.

Perkembangan indikator ekonomi tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar dalam menentukan pergerakan dolar AS dan mata uang lainnya.

Trump Umumkan Kesepakatan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina

Selain kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Ukraina dan Rusia telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing negara.

Menurut Trump, kesepakatan tersebut muncul setelah adanya kesepakatan mengenai pasokan diesel Amerika Serikat dengan Moskow.

Trump juga mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata yang berkaitan dengan fasilitas dan sektor energi kedua negara.

Namun, pernyataan tersebut belum memperoleh konfirmasi yang sama dari seluruh pihak yang disebut terlibat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu rincian mengenai kesepakatan yang diumumkan Trump.

Sementara itu, pihak Rusia belum memberikan komentar terkait pengumuman penghentian serangan terhadap fasilitas energi tersebut.

Dengan demikian, informasi mengenai kesepakatan gencatan senjata sektor energi masih berdasarkan pernyataan Presiden Amerika Serikat, sementara rincian dan konfirmasi resmi dari pihak terkait belum sepenuhnya tersedia.

Kurs JISDOR Bank Indonesia Turut Melemah ke Rp17.899 per Dolar AS

Pelemahan rupiah juga tercermin pada pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.

Pada perdagangan Senin, kurs JISDOR tercatat sebesar Rp17.899 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.884 per dolar AS.

Berdasarkan perbandingan tersebut, kurs JISDOR mengalami kenaikan Rp15 per dolar AS yang menunjukkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat.

Posisi JISDOR sebesar Rp17.899 per dolar AS berbeda dengan kurs rupiah pada penutupan perdagangan yang tercatat sebesar Rp17.913 per dolar AS karena keduanya menggunakan mekanisme penetapan yang berbeda.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah pada perdagangan Senin dipengaruhi oleh sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati publikasi data inflasi konsumen, inflasi produsen, penjualan ritel Amerika Serikat, serta pernyataan pejabat The Fed untuk menilai prospek kebijakan moneter dan arah pergerakan dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026