
Pantau - Anggota Dewan Penasihat Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, menjelaskan pentingnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai strategi pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di hadapan peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Hashim menegaskan bahwa program MBG tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja nasional.
Menurutnya, kondisi gizi anak memiliki hubungan erat dengan kemampuan menyerap pelajaran, konsentrasi belajar, serta kesiapan mereka menjadi tenaga kerja produktif pada masa mendatang.
"Salah satu persoalannya, sekaligus yang menjadi landasan program kami adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mungkin sudah anda dengar. Program MBG merupakan salah satu program unggulan yang dijanjikan Presiden Prabowo selama kampanye," kata Hashim.
Ia menjelaskan bahwa persoalan pemenuhan gizi anak telah menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto sejak jauh sebelum menjabat sebagai kepala negara.
Hashim Ungkap 41 Persen Anak Sekolah Berangkat Tanpa Sarapan
Hashim mengungkapkan bahwa gagasan program MBG telah muncul sejak 2006 ketika Prabowo mulai menaruh perhatian terhadap kondisi gizi dan pendidikan anak-anak Indonesia.
Pada periode tersebut, angka tengkes atau stunting di kalangan anak-anak Indonesia disebut masih cukup tinggi, yakni sekitar 30 persen.
Hashim menjelaskan bahwa persoalan kekurangan gizi tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan makanan, tetapi juga dapat terjadi akibat rendahnya kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi.
Ia juga mengungkapkan hasil kajian pada masa pemerintahan sebelumnya yang menunjukkan sekitar 41 persen anak sekolah di Indonesia berangkat mengikuti kegiatan belajar tanpa sarapan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kemampuan anak berkonsentrasi selama menjalani proses pembelajaran.
"Jadi bisa anda bayangkan ketika anak-anak harus mengikuti pelajaran selama tiga, empat atau lima jam dengan perut kosong," tuturnya.
Hashim menilai pemenuhan kebutuhan gizi menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak-anak.
Melalui program MBG, pemerintah berupaya memastikan anak-anak memperoleh asupan makanan bergizi untuk mendukung pertumbuhan dan kegiatan pendidikan mereka.
Hashim Bandingkan Kualitas Pendidikan Indonesia dengan Korea Selatan
Dalam forum yang turut dihadiri James A. Robinson tersebut, Hashim juga menyoroti perbedaan kualitas pendidikan Indonesia dengan sejumlah negara maju, termasuk Korea Selatan.
Ia menggunakan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan capaian pendidikan antarnegara.
Menurut Hashim, Korea Selatan secara konsisten berada di kelompok negara dengan capaian pendidikan tinggi dalam penilaian internasional tersebut.
Sebaliknya, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemampuan akademik siswa.
"Jika anda melihat, Korea hampir selalu berada di tiga besar, atau mungkin empat besar. Setahu saya, terakhir kali saya melihat negara-negara seperti Selandia Baru, Singapura, Korea, dan Finlandia berada di posisi teratas. Sementara itu, Indonesia hampir selalu berada di 10 persen terbawah, atau termasuk yang terburuk. Terakhir kali saya melihat, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 70 negara. Kita (Indonesia) berada di peringkat ke-62 dari 70 negara," jelasnya.
Hashim menggunakan perbandingan tersebut untuk menekankan perlunya peningkatan kualitas SDM Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain.
Ia mengaitkan peningkatan mutu pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak sejak usia sekolah.
Program MBG Diharapkan Dukung Bonus Demografi Indonesia
Hashim menilai persoalan gizi perlu ditangani secara serius agar Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi secara optimal.
Menurutnya, generasi muda yang memperoleh asupan gizi memadai memiliki peluang lebih baik untuk tumbuh sehat, mengikuti pendidikan, dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja.
Peningkatan kualitas generasi muda tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Hashim juga menegaskan bahwa kebijakan penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah bukan merupakan program baru dalam praktik internasional.
Ia menyebut sejumlah negara telah lebih dahulu menerapkan kebijakan serupa untuk mendukung kesehatan dan pendidikan anak-anak.
Dalam pandangannya, Indonesia justru termasuk negara yang relatif terlambat menerapkan program pemenuhan gizi tersebut.
Oleh karena itu, MBG diposisikan sebagai salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat pembangunan manusia dalam jangka panjang.
Pemerintah Kaitkan Pemenuhan Gizi dengan Pertumbuhan Ekonomi
Hashim menjelaskan bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan Indonesia dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Pemenuhan gizi sejak usia sekolah diharapkan dapat membantu anak-anak mengikuti pembelajaran dengan lebih baik sehingga memiliki bekal pendidikan dan keterampilan ketika memasuki usia produktif.
Dalam konteks tersebut, program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pembangunan pendidikan dan kesiapan tenaga kerja Indonesia.
Hashim menempatkan program tersebut sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Melalui pelaksanaan MBG, pemerintah berharap persoalan gizi anak dapat ditangani sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas ekonomi Indonesia pada masa mendatang.
- Penulis :
- Aditya Yohan




