HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Kenaikan Harga Minyak Dunia Tekan Mata Uang Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Kenaikan Harga Minyak Dunia Tekan Mata Uang Indonesia
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan angka pada kalkulator di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.918 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pelemahan tersebut terjadi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.900 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya harga minyak mentah internasional.

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” ucap Lukman di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS dan penantian investor terhadap data inflasi Amerika Serikat.

Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Serangan Houthi ke Arab Saudi

Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah fasilitas milik perusahaan energi Saudi Aramco di Arab Saudi menjadi sasaran serangan kelompok Houthi dari Yaman.

Mengutip laporan Anadolu, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur negara tersebut, diserang pada Selasa (13/10/2026) malam.

Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di lokasi kejadian.

Tim tanggap darurat dilaporkan telah menangani insiden tersebut dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Pemerintah Arab Saudi memastikan tidak terdapat laporan korban luka maupun korban jiwa akibat serangan itu.

Peristiwa tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.

Berdasarkan laporan Xinhua, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November meningkat 1,89 dolar AS atau 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,93 dolar AS atau 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Pernyataan Pejabat The Fed Beri Dukungan bagi Rupiah

Di tengah tekanan kenaikan harga minyak, rupiah memperoleh dukungan dari pelemahan indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.

Lukman menjelaskan bahwa pergerakan tersebut dipengaruhi pernyataan pejabat bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, John C. Williams.

Pernyataan Williams dinilai cenderung lunak atau dovish terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

“Pejabat the Fed John Williams melihat sekali kenaikan suku bunga tahun ini, namun menilai tidak diperlukan kenaikan lebih lanjut pada tahun 2027,” ungkap Lukman.

Pandangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu membatasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Investor Tunggu Data Inflasi Amerika Serikat

Selain mencermati perkembangan harga minyak dan kebijakan The Fed, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu malam.

Lukman menyebut investor masih cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati atau wait and see menjelang publikasi data tersebut.

Inflasi inti Amerika Serikat diperkirakan meningkat dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen.

Sementara itu, inflasi umum diproyeksikan naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.

Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.850–Rp17.950

Dengan mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia, perkembangan indeks dolar AS, serta penantian data inflasi Amerika Serikat, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan terbatas.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan.

Pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan ketegangan Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026