
Pantau - Pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi nasional dalam jangka panjang menghadapi tantangan efisiensi dan pengurangan emisi, sehingga diperlukan penguatan hilirisasi serta penerapan teknologi bersih untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Komisaris PT Andalan Artha Primanusa, Ivan Victor Salim, menilai sejumlah penyesuaian harus dilakukan sejak dini agar batu bara tetap memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
“Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah.” kata Ivan dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Menurut Ivan, pengolahan batu bara menjadi produk bernilai tambah menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan manfaat komoditas tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
Hilirisasi Batu Bara Didorong untuk Mengurangi Ketergantungan Impor Energi
Ivan menjelaskan bahwa hilirisasi batu bara dapat dilakukan melalui teknologi Coal to Liquid (CTL), yakni proses mengubah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis.
Pengembangan teknologi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif penyediaan bahan bakar dalam negeri sehingga kebutuhan energi nasional tidak sepenuhnya bergantung pada impor.
Selain CTL, gasifikasi batu bara juga menjadi salah satu pilihan pengembangan industri hilir dengan mengubah batu bara menjadi gas sintetis atau syngas.
Gas sintetis tersebut selanjutnya dapat diolah menjadi Dimetil Eter (DME) yang berpotensi menggantikan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Tidak hanya sebagai pengganti LPG, hasil pengolahan gasifikasi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan metanol, amonia sebagai bahan pupuk, serta bahan baku industri petrokimia.
Pengembangan berbagai produk turunan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi batu bara sekaligus memperluas pemanfaatannya untuk kebutuhan industri nasional.
Teknologi Penangkapan Karbon Jadi Tantangan Pengurangan Emisi
Di tengah upaya mempertahankan peran batu bara, penerapan teknologi ramah lingkungan menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak emisi dari pembakaran komoditas tersebut.
Ivan menyebut dekarbonisasi dapat dilakukan melalui penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Teknologi tersebut dirancang untuk menangkap karbon dioksida dari proses pembakaran, kemudian memanfaatkan atau menyimpannya agar tidak seluruhnya dilepaskan ke atmosfer.
Penerapan CCS/CCUS menjadi salah satu alternatif untuk menekan emisi gas rumah kaca dari sektor pembangkit listrik berbasis batu bara.
Selain penangkapan karbon, penggunaan teknologi pembakaran yang lebih efisien pada fasilitas industri dan pembangkit listrik juga dinilai dapat membantu mengurangi dampak lingkungan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan penggunaan batu bara dengan target Indonesia mencapai emisi nol bersih atau Net Zero Emission pada 2060.
Kebijakan DMO Dinilai Penting untuk Menjaga Pasokan Batu Bara
Selain pengembangan teknologi, kepastian pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas energi nasional.
Ivan menilai penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dapat membantu memastikan ketersediaan batu bara bagi industri dan pembangkit listrik dalam negeri.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah dapat mengatur kewajiban pasokan batu bara domestik agar kebutuhan nasional tidak sepenuhnya dipengaruhi perubahan permintaan pasar internasional.
Kepastian pasokan, harga, dan kuota batu bara dinilai penting untuk mengurangi dampak fluktuasi harga komoditas di pasar global terhadap kebutuhan energi dalam negeri.
Ivan juga menekankan pentingnya pengolahan batu bara yang memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien serta memberikan nilai tambah bagi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Cadangan Batu Bara Indonesia Capai 31,9 Miliar Ton
Batu bara masih memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan penyediaan energi bagi berbagai sektor industri di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki sumber daya batu bara mencapai 97,96 miliar ton dengan cadangan sekitar 31,9 miliar ton.
Ketersediaan sumber daya tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi dengan harga relatif terjangkau.
Sejumlah industri nasional, seperti tekstil, semen, serta makanan dan minuman, masih bergantung pada pasokan listrik berbiaya rendah untuk menunjang kegiatan produksinya.
Sementara itu, data Statistical Review of World Energy menempatkan Indonesia pada peringkat keempat dunia sebagai negara dengan konsumsi batu bara terbesar.
Total konsumsi batu bara Indonesia tercatat mencapai 5,15 eksajoule (EJ), menunjukkan besarnya peran komoditas tersebut dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan cadangan yang masih besar, pengembangan hilirisasi, efisiensi pembakaran, serta teknologi pengurangan emisi menjadi bagian dari tantangan pemanfaatan batu bara dalam jangka panjang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




