
Pantau - Batu bara diperkirakan masih menjadi penopang kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang, seiring besarnya cadangan Indonesia yang mencapai 31,9 miliar ton, sehingga penguatan hilirisasi dan penerapan teknologi bersih dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus menekan emisi.
Komisaris PT Andalan Artha Primanusa, Ivan Victor Salim, menilai pemanfaatan batu bara harus diarahkan pada peningkatan efisiensi, pengembangan produk bernilai tambah, serta penggunaan teknologi rendah emisi untuk mendukung transisi energi nasional.
“Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah,” ujar Ivan dalam keterangannya yang diberitakan pada Kamis (8/10/2026).
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97,96 miliar ton dengan cadangan sekitar 31,9 miliar ton.
Ketersediaan tersebut menjadikan batu bara sebagai salah satu sumber energi yang relatif terjangkau untuk mendukung pasokan listrik nasional, khususnya bagi industri tekstil, semen, serta makanan dan minuman.
Ivan Victor Salim Dorong Hilirisasi Batu Bara untuk Kurangi Impor Energi
Ivan menjelaskan bahwa pengembangan industri hilir menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Salah satu teknologi yang dapat dikembangkan adalah Coal to Liquid (CTL), yakni proses pengolahan batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis.
Pemanfaatan teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar sekaligus membuka peluang pengembangan produk energi berbasis sumber daya domestik.
Selain CTL, hilirisasi dapat dilakukan melalui gasifikasi batu bara untuk menghasilkan gas sintetis atau syngas yang dapat diolah menjadi berbagai produk industri.
Produk turunannya meliputi Dimetil Eter (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), metanol, amonia untuk kebutuhan pupuk, hingga bahan baku industri petrokimia.
Pengembangan produk turunan tersebut dinilai dapat memperluas manfaat ekonomi batu bara sehingga komoditas ini tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
Teknologi Penangkapan Karbon Didorong untuk Menekan Emisi PLTU
Di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang, Ivan menekankan pentingnya penerapan teknologi bersih dalam pemanfaatan batu bara, terutama pada sektor pembangkit listrik dan industri.
Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) untuk menangkap, memanfaatkan, dan menyimpan karbon dioksida dari aktivitas industri maupun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Teknologi tersebut bertujuan mengurangi pelepasan karbon dioksida ke atmosfer sehingga dapat membantu menekan emisi gas rumah kaca dari penggunaan batu bara.
Selain teknologi penangkapan karbon, peningkatan efisiensi pembakaran pada fasilitas industri dan pembangkit listrik juga menjadi alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan.
Penerapan teknologi rendah emisi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menyesuaikan pemanfaatan batu bara dengan agenda transisi energi Indonesia.
Kebijakan DMO Diperkuat untuk Menjaga Pasokan dan Harga Energi
Ivan juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi untuk memastikan kebutuhan batu bara domestik tetap terpenuhi di tengah perubahan harga komoditas global.
Menurutnya, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dapat memberikan kepastian pasokan, harga, dan kuota batu bara bagi kebutuhan pembangkit listrik serta industri dalam negeri.
“Tidak kalah penting adalah bagaimana penguatan regulasi dan kebijakan dapat memastikan kebutuhan dalam negeri tetap mendapatkan pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau,” katanya.
Penerapan DMO dinilai penting untuk mengurangi dampak fluktuasi harga batu bara internasional terhadap ketersediaan energi dan biaya produksi industri nasional.
Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang dan daya beli masyarakat.
Sementara itu, berdasarkan data Statistical Review of World Energy, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan konsumsi batu bara terbesar di dunia, dengan total konsumsi mencapai 5,15 eksajoule (EJ).
Besarnya konsumsi tersebut menunjukkan bahwa batu bara masih memiliki peran signifikan dalam memenuhi kebutuhan energi dan menopang aktivitas ekonomi nasional.
Transisi Energi Menuju Emisi Nol Bersih 2060 Jadi Tantangan
Ivan menilai penggunaan batu bara tidak harus langsung dihentikan dalam proses transisi energi, tetapi perlu disesuaikan secara bertahap melalui peningkatan efisiensi dan penerapan teknologi rendah emisi.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu Indonesia menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission pada 2060.
“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien serta memberikan nilai tambah bagi kebutuhan dalam negeri,” ujar Ivan.
Dengan cadangan yang masih besar dan kebutuhan industri yang tinggi, penguatan hilirisasi, teknologi bersih, serta kebijakan pasokan domestik menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting dalam menentukan arah pemanfaatan batu bara Indonesia ke depan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




