HOME  ⁄  Ekonomi

Kementerian Transmigrasi Siapkan Rumah Kopi Rp2 Miliar di Aceh Tengah pada 2027 untuk Dorong Ekspor

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kementerian Transmigrasi Siapkan Rumah Kopi Rp2 Miliar di Aceh Tengah pada 2027 untuk Dorong Ekspor
Foto: Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga bertemu dengan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI, Nirwan Ahmad Helmi sebagai tindak lanjut rekomendasi hasil riset Tim Ekspedisi Patriot tahun 2025 di Jakarta (sumber: Humas Aceh Tengah)

Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) berencana membangun Rumah Kopi senilai sekitar Rp2 miliar di kawasan transmigrasi Ketapang Nusantara, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, pada 2027 untuk memperkuat pengolahan komoditas kopi dan meningkatkan peluang pemasaran hingga pasar ekspor.

Rencana pembangunan tersebut merupakan tindak lanjut rekomendasi Tim Ekspedisi Patriot 2025 yang mengusulkan pengembangan fasilitas pengolahan kopi sebagai bagian dari penguatan ekonomi kawasan transmigrasi.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong pengembangan kawasan transmigrasi berbasis komoditas unggulan dengan mengoptimalkan potensi pertanian masyarakat.

"Pemkab Aceh Tengah terus mendorong pengembangan kawasan transmigrasi berbasis komoditas unggulan daerah. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui rencana pembangunan Rumah Kopi di kawasan transmigrasi Ketapang Nusantara, Kecamatan Jagong Jeget, yang diupayakan Kementrans," kata Haili Yoga dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh, Rabu (14/10/2026).

Pembangunan Rumah Kopi diharapkan menjadi sarana pengolahan hasil pertanian agar kopi yang dihasilkan masyarakat tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga memiliki kualitas dan nilai tambah yang lebih tinggi.

Rumah Kopi Jadi Tindak Lanjut Rekomendasi Tim Ekspedisi Patriot

Haili menjelaskan bahwa rencana pembangunan Rumah Kopi telah dibahas dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan perwakilan Kementerian Transmigrasi.

Dalam pertemuan tersebut, Haili bertemu dengan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi, Nirwan Ahmad Helmi.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut hasil riset Tim Ekspedisi Patriot pada 2025 yang merekomendasikan pembangunan fasilitas pendukung pengembangan ekonomi kawasan Ketapang Nusantara.

Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pembangunan Rumah Kopi untuk mendukung pengolahan komoditas unggulan masyarakat transmigrasi.

Fasilitas tersebut diharapkan mampu memperkuat hilirisasi kopi melalui peningkatan kualitas produk dan pengembangan kegiatan pascapanen.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menilai penguatan sektor kopi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kegiatan budidaya hingga pengolahan dan pemasaran hasil produksi.

Melalui pengembangan tersebut, petani diharapkan memperoleh kesempatan meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi yang dihasilkan.

Pemkab Aceh Tengah Dorong Kolaborasi Kementrans dan Kementerian Pertanian

Haili menekankan bahwa pembangunan Rumah Kopi membutuhkan kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan kementerian lainnya.

Menurutnya, sinergi antarkementerian diperlukan agar bantuan pemerintah dapat saling melengkapi dalam mendukung pengembangan komoditas kopi.

Haili menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian sebelumnya telah memberikan bantuan berupa bibit kopi dan mulsa kepada masyarakat.

Bantuan tersebut telah diterima dan dimanfaatkan melalui kegiatan penanaman di wilayah yang menjadi sasaran pengembangan.

Namun, dukungan sarana budidaya dinilai perlu dilanjutkan dengan penyediaan fasilitas pengolahan agar hasil produksi petani memiliki nilai tambah.

"Kolaborasi antarkementerian sangat penting. Kementerian Pertanian sudah membantu bibit dan sarana pertanian, kemudian Kementerian Transmigrasi mengupayakan Rumah Kopi. Kita berharap hasil produksi petani tidak hanya berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut sampai pengolahan, peningkatan kualitas, dan pemasaran hingga ekspor," kata Haili Yoga.

Pemerintah daerah berharap kolaborasi tersebut dapat membangun kegiatan usaha kopi yang terhubung dari tahap budidaya hingga pemasaran.

Pengembangan fasilitas pengolahan juga diharapkan membantu petani meningkatkan mutu kopi sehingga produk yang dihasilkan memiliki standar kualitas lebih baik.

Selain peningkatan kualitas, pemerintah daerah menargetkan pengembangan akses pemasaran agar kopi dari kawasan transmigrasi dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Generasi Muda Didorong Terlibat dalam Industri Kopi Aceh Tengah

Haili juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan industri kopi di Kabupaten Aceh Tengah.

Menurutnya, generasi muda memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas produk melalui pemanfaatan teknologi dan pengembangan keterampilan.

Keterlibatan tersebut perlu didukung dengan fasilitas pengolahan yang memadai serta pendampingan usaha secara berkelanjutan.

Melalui dukungan teknologi dan peningkatan keterampilan, generasi muda diharapkan mampu menghasilkan produk kopi dengan kualitas yang konsisten.

Konsistensi mutu menjadi salah satu sasaran pengembangan agar kopi dari kawasan transmigrasi memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

Pemerintah daerah juga berharap pengembangan industri pengolahan kopi dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.

Selain menciptakan kesempatan berusaha, fasilitas tersebut diharapkan mampu mendorong pembukaan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi kawasan transmigrasi.

Kementrans Perkirakan Anggaran Rumah Kopi Mencapai Rp2 Miliar

Nirwan Ahmad Helmi menyampaikan bahwa Kementerian Transmigrasi akan mengupayakan pembangunan Rumah Kopi di Kecamatan Jagong Jeget pada 2027.

Rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut pelaksanaan dan dukungan penganggaran sebelum dapat direalisasikan.

Kementerian Transmigrasi memperkirakan kebutuhan anggaran pembangunan fasilitas tersebut mencapai sekitar Rp2 miliar.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp1,5 miliar direncanakan untuk pembangunan fisik Rumah Kopi.

Sementara itu, anggaran sekitar Rp500 juta disiapkan dalam rencana kebutuhan pembiayaan untuk pengadaan peralatan pengolahan kopi.

Berdasarkan rincian tersebut, sekitar 75 persen kebutuhan anggaran dialokasikan untuk pembangunan fisik dan 25 persen untuk pengadaan peralatan.

Seluruh nilai tersebut masih merupakan perkiraan kebutuhan pembiayaan, bukan pengeluaran yang telah direalisasikan.

Nirwan berharap fasilitas Rumah Kopi dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil produksi kopi.

“Fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas kopi Aceh Tengah, memperkuat proses pengolahan, serta mendorong produk kopi lokal memenuhi standar pasar internasional dan ekspor,’ katanya.

Pengembangan fasilitas tersebut diarahkan agar kopi dari kawasan Ketapang Nusantara memiliki standar kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

Peningkatan mutu dan kemampuan pengolahan diharapkan dapat mendukung pemasaran produk sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pemkab Aceh Tengah Juga Usulkan Pembangunan Pasar Rakyat

Selain membahas Rumah Kopi, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyampaikan kebutuhan pembangunan pasar rakyat di kawasan transmigrasi Ketapang Nusantara.

Usulan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pemulihan kegiatan perdagangan masyarakat setelah terjadinya musibah kebakaran.

Pemerintah daerah menilai keberadaan pasar rakyat penting untuk menyediakan kembali fasilitas yang mendukung aktivitas jual beli masyarakat.

Melalui pembangunan pasar, masyarakat diharapkan dapat kembali menjalankan kegiatan perdagangan dan aktivitas ekonomi sehari-hari secara lebih baik.

Haili berharap koordinasi dengan Kementerian Transmigrasi dapat ditindaklanjuti melalui program pembangunan yang konkret.

Pemerintah daerah juga mengharapkan dukungan anggaran yang terukur agar rencana pengembangan kawasan transmigrasi dapat direalisasikan.

Dukungan tersebut diperlukan untuk memperkuat pengembangan komoditas kopi sekaligus membantu pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat setelah kebakaran.

Kementrans Pertimbangkan Kerja Sama dengan Kemendag dan Pihak Ketiga

Menanggapi usulan pembangunan pasar rakyat, Nirwan menjelaskan bahwa Kementerian Transmigrasi akan mempertimbangkan kemampuan anggaran yang tersedia.

Apabila anggaran kementerian tidak mencukupi, pihaknya akan menjajaki koordinasi dengan kementerian lain untuk mencari dukungan pembiayaan.

Salah satu kementerian yang berpotensi dilibatkan adalah Kementerian Perdagangan karena pembangunan pasar berkaitan dengan fasilitas perdagangan masyarakat.

Selain kerja sama antarkementerian, Kementerian Transmigrasi juga membuka kemungkinan menjajaki dukungan dari pihak ketiga.

Alternatif tersebut dipertimbangkan apabila terdapat keterbatasan anggaran pemerintah untuk merealisasikan pembangunan pasar rakyat.

Nirwan menilai pasar rakyat dan Rumah Kopi memiliki fungsi berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Rumah Kopi diarahkan menjadi fasilitas pengembangan komoditas unggulan melalui pengolahan dan peningkatan kualitas produk.

Sementara itu, pasar rakyat diharapkan menjadi pusat kegiatan perdagangan yang menunjang kebutuhan ekonomi sehari-hari masyarakat kawasan transmigrasi.

"Kedua kebutuhan itu diharapkan dapat saling mendukung dalam mempercepat pemulihan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi Jagong Jeget," kata Nirwan.

Dalam pertemuan tersebut, Nirwan turut didampingi Direktur Pengembangan Produk Unggulan Transmigrasi, Sofyan Hanafi.

Kehadiran pejabat yang membidangi pengembangan produk unggulan tersebut berkaitan dengan pembahasan penguatan komoditas kopi sebagai salah satu potensi ekonomi kawasan Ketapang Nusantara.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama Kementerian Transmigrasi berharap pembangunan Rumah Kopi pada 2027 dapat memperkuat hilirisasi kopi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas akses pemasaran hingga pasar ekspor.

Sementara itu, rencana pembangunan pasar rakyat diharapkan mendukung pemulihan perdagangan masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan transmigrasi Jagong Jeget.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026