HOME  ⁄  Ekonomi

Kemenekraf Siapkan Pendampingan Produk Kreatif Indonesia Tembus Pasar Jepang Lewat Festival Desember 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenekraf Siapkan Pendampingan Produk Kreatif Indonesia Tembus Pasar Jepang Lewat Festival Desember 2026
Foto: (Sumber :Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar (kanan), menerima audiensi Atase Perdagangan KBRI Tokyo, Merry Astrid Indriasari, untuk membahas peluang promosi produk, kekayaan intelektual (IP), dan talenta kreatif Indonesia di Jepang di Jakarta, Senin (12/10/2026). ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif.)

Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menyiapkan pendampingan bagi pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas akses pasar Jepang melalui promosi produk, pengembangan kekayaan intelektual, dan partisipasi dalam Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) pada Desember 2026.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan pemerintah siap membantu proses kurasi dan pendampingan produk agar karya kreatif nasional dapat menjangkau konsumen Jepang secara lebih luas.

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Irene dengan Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo Merry Astrid Indriasari di Jakarta, Senin (12/10/2026).

“Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk menyinergikan dan memperluas akses pasar global bagi produk kreatif Indonesia. Kementerian Ekraf siap menjadi mitra strategis dalam proses kurasi hingga pendampingan produk mengenai rencana partisipasi Indonesia dalam berbagai acara festival internasional seperti Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) 2026,” ujar Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Festival Indonesia-Jepang Jadi Peluang Promosi 21 Subsektor Ekonomi Kreatif

Partisipasi Indonesia dalam IJFF 2026 dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk dan talenta kreatif nasional kepada masyarakat Jepang.

Melalui festival tersebut, Kemenekraf berharap karya dari 21 subsektor ekonomi kreatif Indonesia dapat menjangkau konsumen yang lebih luas, tidak hanya komunitas diaspora Indonesia.

Sejumlah produk yang berpotensi dipromosikan meliputi jamu, kopi, parfum, dan tas.

Selain produk fisik, talenta kreatif dari bidang musik juga menjadi bagian dari peluang promosi yang sedang dijajaki.

Kemenekraf bersama mitra terkait akan mempertimbangkan bentuk promosi yang sesuai dengan karakter pasar Jepang serta kesiapan masing-masing subsektor.

Irene menilai kerja sama tersebut dapat mempertemukan potensi industri kreatif Indonesia dengan jaringan usaha dan konsumen internasional.

Produk Kulit, Kayu, dan Rotan Indonesia Berpeluang Masuk Pasar Jepang

Atase Perdagangan KBRI Tokyo Merry Astrid Indriasari mengatakan produk kreatif Indonesia memiliki peluang untuk diterima konsumen Jepang apabila mampu memadukan fungsi, kualitas, dan desain khas Nusantara.

Menurutnya, produk berbahan kulit, kayu, dan rotan berpotensi memenuhi kebutuhan konsumen Jepang yang cenderung menyukai desain sederhana dan fungsional.

Pilihan warna yang tidak terlalu kontras juga menjadi salah satu karakter produk yang dinilai sesuai dengan preferensi pasar tersebut.

Meski demikian, Merry mengingatkan pelaku usaha Indonesia agar tidak sepenuhnya meniru gaya desain Jepang ketika mengembangkan produk untuk pasar tersebut.

“Kalau kita ingin masuk ke pasar Jepang, jangan mencoba mengikuti gaya Jepang sepenuhnya. Tampilkan apa yang Indonesia punya. Justru ciri khas Indonesia itulah yang dapat diapresiasi oleh masyarakat Jepang dan menjadi nilai pembeda produk kreatif Indonesia,” kata Merry.

Ia menilai identitas khas Indonesia dapat menjadi keunggulan pembeda ketika produk nasional bersaing dengan produk dari negara lain.

Pengalaman Osaka World Expo 2025 Jadi Modal Promosi

Merry menyebut pengalaman memperkenalkan produk dan talenta Indonesia di Jepang, termasuk melalui Osaka World Expo 2025, dapat menjadi modal untuk memperluas promosi ekonomi kreatif nasional.

Pengalaman tersebut dinilai dapat mendukung penyusunan strategi promosi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakter konsumen Jepang.

Kemenekraf juga mendorong agar produk yang dipasarkan tidak hanya mengandalkan asal negara, tetapi memiliki konsep promosi yang mampu menarik perhatian konsumen.

“Indonesia memiliki kekayaan ide, kreativitas, dan identitas yang bisa menjadi daya tarik tersendiri di pasar global. Kita perlu memastikan bahwa produk dan karya kreatif yang dibawa ke Jepang tidak hanya tampil sebagai produk Indonesia, tetapi juga memiliki konsep promosi yang relevan, menarik, dan mampu membangun hubungan dengan konsumen setempat,” ujar Irene.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat daya saing produk kreatif Indonesia di pasar internasional.

WCCE 2026 di Jakarta Buka Peluang Kolaborasi dan Pengembangan Kekayaan Intelektual

Selain melalui IJFF 2026, Kemenekraf akan menjajaki peluang kerja sama internasional melalui World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.

Forum tersebut dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta dengan mengangkat tema Inclusively Creative: Collective Continuity.

Kegiatan ini akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri kreatif, kreator, investor, serta mitra internasional.

Salah satu fokus pembahasannya adalah pembukaan peluang kolaborasi dan pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) bagi pelaku ekonomi kreatif.

Kemenekraf berharap rangkaian kerja sama dan promosi internasional tersebut dapat membantu pelaku usaha kreatif Indonesia mendapatkan mitra bisnis baru.

Pemerintah juga menekankan pentingnya mempertahankan identitas produk Nusantara sambil menyesuaikan strategi pemasaran dengan karakter konsumen negara tujuan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026